Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

Balada Bala Sinema (2017)

Saya percaya menonton film sanggup mencerdaskan bangsa. Keberadaannya memfasilitasi penyampaian ragam fenomena, informasi, dan pengetahuan dari penjuru dunia, juga menstimulus imajinasi. Balada Bala Sinema beserta subjeknya, Bowo Leksono dengan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga yang ia dirikan telah berjasa melaksanakannya. Dan teruntuk Bowo, sosoknya laksana guru besar sinema tanah air, setidaknya dalam lingkup komunitas dan ruang pemutaran alternatif, berkat perjuangannya memaparkan keindahan sinema bagi rakyat kampung yang tak tersentuh bioskop komersil. 

Diawali kesuksesan film pendek Peronika di 2004, dua tahun berselang Bowo mendirikan CLC yang menyediakan wadah berkarya siswa-siswi Purbalingga. Lalu setahun setelahnya, berbekal dana terbatas tanpa uluran dukungan sponsor maupun pemerintah setempat, ia mencetuskan Festival Film Purbalingga (awalnya berjulukan Parade Film Purbalingga) yang populer lewat kegiatan Layar Tanjleb selaku media penayangan film untuk masyarakat kampung seantero Banyumas Raya. Tentunya itu bukan suatu usaha mudah. 
Tanpa gaya berlebih menyerupai dokumenter kontemporer yang belakangan marak, Yuda Kurniawan murni memposisikan Balada Bala Sinema sebagai tontonan informatif. Kekuatannya bukan pada kekayaan estetika melainkan kelengkapan informasi, merangkum perjalanan panjang Bowo Leksono sedari mendirikan CLC, terlibat konflik dengan pemerintah Purbalingga terkait larangan menggunakan pendopo untuk memutar film yang berujung terciptanya dokumenter 30 menit berjudul Bioskop Kita Lagi Sedih, sampai membawa pelajar Purbalingga berjaya di banyak sekali ekspo film berskala nasional. 

Memakan waktu bertahun-tahun mengumpulkan stok gambar, memudahkan Yuda menyusun detail perjalanan subjeknya juga bisa menangkap momen-momen penting secara utuh. Balada Bala Sinema patut bersyukur dianugerahi narasumber yang pintar bercerita, bisa menyediakan kisah yang komplet sekaligus gampang dipahami sehingga nyaman diikuti. Tidak mengherankan, toh mayoritas dari mereka merupakan sutradara handal. Keputusan Yuda menentukan banyak menerapkan teknik talking head pun terbayar lunas. 
Kepiawaian Yuda Kurniawan bernarasi mengakibatkan film ini, meski tersusun atas beraneka macam konflik, tetap terjalin rapi pada satu benang merah yang mewakili semangat Bowo Leksono dan CLC, yaitu perjuangan. Dibuka oleh teks mengenai terbebasnya kekangan berkarya pasca Orde Baru, Balada Bala Sinema tak pernah lepas dari perjuangan, entah mengakali keterbatasan atau melawan represi pemegang (dan yang memaksakan) otoritas. Namun filmnya tak terhindar dari masalah, ketika footage melimpah jadi pisau bermata dua. Bagai sayang membuang stok, acap kali satu insiden berlangsung terlalu usang akhir disertakannya poin kurang substansial atau montage yang kepanjangan. 

Mencapai satu jam, Balada Bala Sinema pun sempat goyah dan kehilangan momentum, hingga mencapai konflik pamungkas tatkala CLC diserbu ormas berkedok pembela Pancasila alasannya ialah menyelenggarakan pemutaran Pulau Buru Tanah Air Beta. Di sinilah perlawanan bertabur gejolak emosi memasuki puncaknya. Kecerdikan Yuda terasa betul ketika tetapkan mewawancarai ketua ormas dengan para pengikutnya rutin berteriak "NKRI HARGA MATI!" di belakang. Daripada "cuma" menyulut kekesalan penonton (yang mana sukses dilakukan), Yuda menghadirkan momen emas berupa ucapan menggelikan menyerupai "boleh berguru sejarah asal jangan mengungkit yang sudah lewat". Kita pun diajak menertawakan kebodohan negeri ini. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Nyai (2016)

Teater, ketoprak, wayang orang, komedi stamboel. Jenis-jenis pertunjukan panggung tersebut merupakan asal sinema tanah air. Gaya bertutur, para pelakon, hingga aspek teknis menyerupai tata rias serta pencahayaan, yang pernah disinggung kritikus JB Kristanto mengusung semangat "asal terang dan jelas", bermula dari tradisi kesenian di atas. Melalui Nyai, Garin Nugroho mengunjungi babak historis itu, mengawinkan film dengan kesenian panggung yang telah konsisten ia lakukan semenjak awal karir. Bedanya, Nyai membawanya ke tingkat lebih tinggi, merangkum 90 menit narasi dalam satu take

Mengambil masa 1927 tatkala Loetoeng Kasaroeng, film produksi Indonesia pertama, dilahirkan. Alkisah, hiduplah Nyai (Annisa Hertami), istri laki-laki Belanda berjulukan Willem van Erk (Rudi Corens). Menjadi seorang "Nyai" berarti siap mendapatkan balasan jelek masyarakat. Sebutan "sundal" dan "kafir", bahkan lemparan watu hingga kotoran terpaksa dihadapi. Tapi Nyai menerangkan ia bukan sekedar "wanita pribumi miskin yang dipersunting tuan kaya". Beraneka tamu, dari musisi, akuntan, jurnalis, juga pemuka agama, beliau ladeni secara tegas, berwibawa, intelek. 
Nyai bagai klimaks verbal kecintaan Garin Nugroho terhadap napak tilas kesenian nusantara. Mendasari dongeng dari lima novel mengenai "Nyai" dengan setting 1920-an termasuk  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal, Garin pintar melukiskan kondisi dunia seni masa itu. Penonton diajak memahami bagaimana film (dahulu disebut "gambar sorot") hingga komedi stamboel mengisi kehidupan para tokoh melalui selipan rujukan pada pembicaraan maupun kedatangan bermacam orang dalam rangka ulang tahun Willem. Kemunculannya natural berkat keberadaan konteks, tidak dipaksa masuk secara acak.

Metode one take-nya mungkin belum serumit Russian Ark atau Victoria, di mana kamera Nur Hidayat hanya bergerak di beberapa kesempatan saja. Tapi itulah mengapa pilihan estetika ini bukan sebatas gaya-gayaan. Kamera berfungsi menggantikan tata pencahayaan selaku alat penentu fokus pertunjukan. Bentuk default-nya ialah shot diam di tengah menyerupai lampu netral yang menyoroti panggung utama. Begitu titik fokus pindah, kamera pun bergerak. Sementara pergantian antara siang dan malam tersaji mulus berkat perubahan halus intensitas lampu dibarengi bunyi-bunyian suasana contohnya bunyi jangkrik.
Nyai jadi pola kala film menguatkan presentasi teater, memfasilitasi apa yang sulit dicapai di atas panggung. Close-up memungkinkan penonton mengamati detail verbal Annisa Hertami yang bermain dalam konsistensi luar biasa, memamerkan sosok Nyai yang tak gentar berkonfrontasi, menaklukkan tiap lawan bicara melalui ketegasan tutur serta laku. Eksplorasi ruang pun terbantu, contohnya dikala sekali waktu kamera masuk menelusuri interior rumah. Tidak lupa, Garin menambahkan kesejukan khas teater berupa secuil guyonan lewat interaksi dua pembantu yang diperankan Gunawan Maryanto dan Cahwati Sugiarto.

Berasal dari perspektif laki-laki menyebabkan tuturan soal ketangguhan perempuan film ini kurang nyaring bersuara, sebatas mengandalkan performa solid Annisa Hertami terkait pemaparannya. Selebihnya, Nyai berhasil mengembalikan dua poin: Akar film tanah air yang bersinggungan dekat dengan cabang kesenian tradisional lain, serta Garin Nugroho dalam karya juga ciri terbaiknya sehabis Mooncake Story gagal total. Bersama eksperimen lain berupa Setan Jawa, film bisu diiringu live orchestra, sang sutradara senior menemukan sentuhannya lagi. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Senin, 17 Desember 2018

Mobil Bekas Dan Kisah-Kisah Dalam Putaran (2017)

Serupa ragam isu-isu di dalamnya, Mobil Bekas akan mengejutkan penonton kemudian memancing perbincangan, tukar opini sengit yang mungkin takkan mencapai titik temu sekalipun sang sutradara/penulis naskah Ismail Basbeth telah melangkah ke karya berikutnya di masa depan. Diproduksi melalui crowdfunding dari puluhan nama yang memperoleh kredit co-producers, film ini merupakan kumpulan fragmen berbentuk kisah-kisah simbolik yang merangkum permasalahan Indonesia semenjak dulu sampai kini, tepatnya keresahan Basbeth terhadapnya. Jika kendaraan beroda empat jeep bekas merupakan negara, maka para penumpang menjadi rakyatnya. 

Akuntan (Cornelio Sunny) yang bercinta dengan mobilnya, trio grup musik perempuan (Dea Ananda, Shalfia Fala Pratika, Leilani Hermiasih) yang membicarakan konsep ketuhanan dan alien sepanjang perjalanan, sepasang suami istri beda usia (Karina Salim, Yan Widjaya) yang berbulan madu di kebun binatang, pelacur yang ingin lari dari kehidupannya (Natasha Gott), pertemuan perempuan (Sekar Sari) dengan sesosok hantu gentayangan (Verdi Solaiman), sampai protes dua petani (Giras Basuwondo, Ibnu 'Gundul' Widodo) pada pemerintah selaku mediator tiap kisah yang terus berputar sementara si kendaraan beroda empat bekas menjadi saksi. 
Mengingatkan kepada film pendeknya, Shelter (2011), Basbeth membiarkan gambar olahan D.o.P. Satria Kurnianto bicara. Dilakukannya pengamatan situasi di tengah kesunyian plus take panjang satu sudut kamera yang menangkap tindak-tanduk insan dalam gerak mekanis kendaraan. Semakin usang diamati, kehampaan adegan menjadi penuh. Penuh kesedihan, amarah, kebimbangan, sesekali keceriaan. Tidak lupa, Basbeth menyelipkan "hook" alias momen menghentak penggaet atensi penonton di masing-masing keping cerita, entah beraroma sensual, brutal, atau kejutan ibarat penampakan dadakan nan mengerikan Verdi Solaiman. 

Kamera boleh minim gerak, namun tiada monotonitas. Di antara dominasi gambar statis ada pilihan sudut-sudut menarik hasil kreasi Satria Kurnianto, khususnya kala merekam bentangan alam dan malam kelam minim cahaya buatan, yang makin menghipnotis ketika pilihan aspek rasio lebar 2.35 : 1 seolah enggan melewatkan satupun pemandangan. Basbeth memang sutradara penuh gaya. Beberapa mendukung maksud (tata bunyi segmen suami istri beda usia menguatkan kesan alienasi), beberapa sebatas suplemen kurang substansial, tapi setidaknya mempercantik estetika. 
Mobil Bekas jelas dimaksudkan sebagai tontonan multitafsir selaku bentuk kesediaan Basbeth menghargai heterogenitas duduk kasus yang penonton alami selaku warga negara Indonesia. Ini tepat, mengingat satu isu, contohnya sosial-politik saja bisa dimaknai berbeda, melahirkan perspektif tak sama. Dari sini terjadi transfer, di mana curahan personal pembuat film menjadi personal pula bagi penonton. Ikatan seksual sang akuntan dengan kendaraan beroda empat bisa nampak sebagai ungkapan kerinduan bagi satu pihak, bisa juga sindiran atas materialisme di mata pihak lain. Dendam kesumat si perempuan yang bertemu hantu gentayangan pun sanggup berkembang ke arah paparan bencana bernada rasialisme. 

Pada pemutarannya di Busan International Film Festival Oktober lalu, sosok legendaris Pierre Rissient menyebut Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran sebagai "pure cinema". Saya sependapat, setidaknya dalam lingkup di mana sinema menjadi cerminan suatu negeri yang mewakili ragam ruang personal baik milik pembuat juga penontonnya. Walau keberagaman itu turut berarti gaya bertutur filmnya yang jauh dari kata "ringan" sulit menjangkau publik luas. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Logan Lucky (2017)

Sekembalinya dari hiatus, Steven Soderbergh menyuguhkan antitesis dari film terlaris sepanjang karirnya, Ocean's Eleven. Masih perihal perampokan, hanya tanpa kemewahan, teknologi canggih, maupun keeleganan. Daripada ekspertis, karakternya merupakan sekumpulan orang kampung miskin berpakaian lusuh, cenderung bodoh, dengan seorang "ahli teknologi" yang tak dapat membedakan telepon genggam dan rumah, pula bangkit kesiangan di Hari-H. Pun Soderbergh turut mengubah James Bond menjadi kriminal liar. Logan Lucky tampil keren dan mengasyikkan tanpa perlu berusaha keras menjadi keren dan sok asyik.

Dalam naskah buatan Rebecca Blunt  nama samaran Jules Asner, istri sang sutradara  Channing Tatum memerankan Jimmy Logan yang gres saja dipecat dari pekerjaan konstruksi serta terbentur duduk masalah hak didik dengan mantan istrinya, Jo (Katie Holmes). Terhimpit soal ekonomi, Jimmy berencana merampok brankas di sebuah arena balap NASCAR dengan pertolongan kedua adiknya, Clyde (Adam Driver), bartender yang kehilangan tangannya di Irak juga percaya keluarga Logan dikutuk kesialan tak berujung dan Mellie (Riley Keough) si pegawai salon bermulut pedas. Turut direkrut yakni Joe Bang (Daniel Craig) yang tengah mendekam di penjara sebagai penyedia materi peledak. 
Jimmy, selaku otak misi, muncul dengan "10 aturan perampokan" yang terdiri dari "have a plan", "have a back-up plan" hingga "shit happens", menerangkan bahwa ia bukan seorang cerdas, sebagaimana cara filmnya menyusun heist, yang meski didasari perencanaan berlapis, keberhasilannya banyak melibatkan kebetulan dan kebodohan korban. Tapi filmnya memang tak mau berlagak pintar, dibentuk sebagai hiburan semaunya. Jangan lupa, kita sedang menonton film berjudul "Logan Lucky", bukan "Logan Smart" atau "Logan Genius". 

Skenario Blunt (atau Asner) lebih rapi dari kelihatannya, mengandung struktur sangat solid dalam mengaitkan bermacam-macam narasi yang berjalan beriringan. Selain sanksi perampokan, ada kembalinya pemmbalap Dayton White (Sebastian Stan), kontes yang diikuti puteri Jimmy, Sadie (Farrah Mackenzie), hingga kekacauan di penjara, yang berujung saling bertautan seiring penyelidikan oleh biro FBI, Sarah Grayson (Hilary Swank). Sesekali, balutan komedi berbasis absurditas situasi dan obrolan ala Coen Brothers (tangan palsu yang terhisap mesin penyedot, obrolan mengenai Game of Thrones yang melewati bukunya) ikut meramaikan suasana.
Pasca tiga tahun absen, rupanya Soderbergh sama sekali belum kehilangan sentuhan, menggerakkan alur dengan semangat bersenang-senang penuh energi sembari tetap memperhatikan ketelitian bernarasi. Filmnya liar namun gampang dicerna, urung tersesat dalam alur serta kejutan berlapis miliknya. Mewakili jiwa Logan Lucky, ketimbang mengikuti template musik heist pada umumnya, iringan lagu-lagu country yang lebih renyah dan "mentah", dengan Take Me Home, Country Roads sebagai jiwa inti pun diterapkan, menghasilkan perbedaan sisi estetika yang istimewa. 

Kekuatan Soderbergh dalam hal mengarahkan ensemble cast juga masih terang terpampang, memberi kesempatan bersinar tiap-tiap dari mereka. Tatum dengan aksen Southern-nya, Driver dengan ketertutupan yang canggung, dan Craig selaku pencuri perhatian melalui sisi eksentrik penghilang kekhawatiran bila James Bond membatasi jangkauan perannya. Bahkan peran-peran kecil yang dilakoni Seth MacFarlane dan Hilary Swank pun urung berlalu tanpa kesan. Nama yang disebut terakhir mencuatkan potensi terkait sekuel menarik walau perolehan Box Office rasanya membunuh cita-cita itu. Tapi bagi Soderberg yang merevolusi sinema independen lewat Sex, Lies, and Videotape, berani membuat ulang Solaris-nya Tarkovsky, dan menimbulkan Sasha Grey pemain utama di The Gilrfriend Experience, tak ada kemustahilan.

Minggu, 16 Desember 2018

The Killing Of A Sacred Deer / Brigsby Bear / Captain Underpants: The First Epic Movie

Saat saya merasa 2017 tidak bisa lebih aneh pasca menyaksikan Mother!The Killing of a Sacred Deer yang membawa Yorgos Lanthimos dan Efthymis Filippou memenangkan naskah terbaik di gelaran Festival Film Cannes simpulan Mei kemudian justru bisa lebih menghantam jiwa daripada karya Darren Aronofsky tersebut. Sebaliknya, Brigsby Bear buatan DaveMcCary menghangatkan jiwa lewat aura kasatmata yang dimiliki, begitu pula Captain Underpants: The First Epic Movie selaku pembiasaan dari buku dongeng anak Captain Underpants yang imajinatif. 

The Killing of a Sacred Deer (2017)
Dalam naskah pertunjukan Iphigenia in Aulis yang dipentaskan pada 405 SM, Agamemmon, pemimpin koalisi Yunani, tidak sengaja membunuh rusa suci milik Artemis. Sebagai balasan, Artemis mengirim badai, memaksa Agamemmon mengorbankan puterinya, Iphigenia, supaya angin kencang itu berhenti. Dalam The Killing of a Sacred Deer, keluarga ahli bedah berjulukan Steven (Colin Farrell) lumpuh dan bakal mati mengenaskan kecuali ia bersedia membunuh satu dari mereka. Kelalaian ketika operasi yang mengakibatkan simpulan hidup pasien jadi penyebab "kutukan". Martin (Barry Keoghan sebagai tokoh paling mengerikan tahun ini), putera si pasien, mewakili tugas Artemis. Seperti biasa, abjad ciptaan Lanthimos bicara dalam nada datar, membangun suasana yang tambah mengerikan seiring tirai dongeng tersingkap. Belum lagi ditambah iringan musik menyayat. Metode itu turut berfungsi memaparkan soal "topeng". Semanis apapun lip service diucapkan karakternya, tiada verbal tampak. Sebaliknya, mereka bernyawa kala meluapkan kejujuran, walau teramat jelek dan kejam. Di tangan Lanthimos, konflik batin mendorong kesan hilangnya kemanusiaan baik secara fisik maupun mental, menghasilkan setumpuk pemandangan tidak nyaman. Ironisnya, justru ketika itu wajah orisinil insan terungkap. (4/5)

Brigsby Bear (2017)
Brigsby Bear bicara mengenai pengaruh budaya populer, bahkan menyertakan Mark Hamill selaku ikon geekdom dalam penampilan singkat yang membuat para penggemar berharap ia lebih banyak memamerkan bakat voice acting-nya. Protagonisnya yaitu James (Kyle Mooney), seorang geek yang terobsesi pada jadwal anak perihal beruang satria semesta berjudul Brigsby Bear Adventures. Beda dengan Napoleon Dynamite misalnya, Mooney yang turut menulis naskah bersama Kevin Costello membuat sosok geek yang "toleran", mau beradaptasi, menyentuh hal di luar obsesinya, bersedia terlibat interaksi sosial, sehingga gampang disukai. Geekiness dalam Brigsby Bear bukan perilaku alienasi, melainkan kepolosan. Ada twist di awal yang takkan saya ungkap, pada dasarnya James mendapati jadwal favoritnya berhenti diproduksi, kemudian tetapkan membuatnya sendiri. Lubang terkait budi maupun gosip psikologis bertebaran seiring proses James melahirkan mahakarya, namun termaafkan berkat usungan semangat positifnya. Berpesan soal berdamai dengan masa kemudian untuk memulai awal baru, iringan piano anggun gubahan David Wingo melengkapi kehangatan tutur filmnya. (4/5)

Captain Underpants: The First Epic Movie (2017)
"Normal" bukan kata yang cocok diperlukan dari pembiasaan novel anak yang mempunyai judul-judul menyerupai The Sensational Saga of Sir Stinks-A-Lot atau The Attack of the Talking Toilets. Itu sebabnya tak perlu kita memusingkan bagaimana mainan hadiah sereal bisa membuat dua bocah usil, George (Kevin Hart) dan Harold (Thomas Middleditch), menghipnotis kepala sekolah mereka yang galak, Mr. Krupp (Ed Helms), menjadi Captain Underpants, satria super dari komik buatan keduanya. Tapi, jangankan kekuatan super, Captain Underpants tidak punya kostum kecuali celana dalam dan jubah berbahan dasar gorden. Professor Poopypants (Nick Kroll), dengan rencana menghapus tawa yaitu sang penjahat, pun Melvin (Jordan Peele) si kutu buku penjilat tanpa selera humor. Tapi musuh sejati filmnya yaitu kekakuan pengekang hak belum dewasa bersenang-senang. Perlawanan penuh kreativitas hadir kala sutradara David Soren mendobrak teladan normatif, mencampur aduk gaya animasi (komik strip, muppet, hingga flip-o-rama) sebagaimana Harold gemar seenaknya menyertakan lumba-lumba dalam komik. Amat kaya visualnya, sukar dipercaya film ini merupakan animasi komputer produksi DreamWorks dengan bujet terendah ($38 juta). Captain Underpants: The First Epic Movie dengan dominasi fart jokes dan celana dalam titular character-nya jelas tak sebodoh tampak luarnya. (4/5)

Jumat, 14 Desember 2018

City Of Ghosts / Victoria & Abdul / Marjorie Prime

Anda masih menganggap enteng bahaya ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibentuk kolam neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di cuilan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok cerita persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime mengatakan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati insan sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala insan dipertontonkan, belum dewasa dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja lantaran pemandangan kejam. Horor sebenarnya hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa berpengaruh mereka?". Dan menyerupai diutarakan satu narasumber, ISIS yakni gagasan, sanggup tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk mendapatkan cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat dominan rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas dampak emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup jalan masuk isu Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak cerita luar biasa di internet. Tapi apakah kegiatan itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, erat dengannya, menentukan meninggalkan tanah air dan hidup glamor di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada insan haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) yakni pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) sampai seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain impian memperbaiki hidup, mengesankan beliau hanya social climber biasa. Ada perjuangan memanusiakan Victoria sebagai perempuan bau tanah kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, alasannya yakni beliau yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, perempuan ramah tapi ringkih yang membutuhkan mitra di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai aristokrat yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam kendaraan beroda empat mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati sanggup diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), perempuan bau tanah penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang mempunyai wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari isu yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah lantaran ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui formasi dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan insan utuh, tapi menolong insan menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)

Call Me By Your Name / I, Tonya / Lady Bird

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada ekspresi dominan penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, pembiasaan novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat dongeng hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, hingga Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan sesudah menciptakan Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi manis Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap ekspresi dominan panas di perkampungan Italia cuilan Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name ialah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta sampaumur 17 tahun berjulukan Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), laki-laki berusia jauh lebih bau tanah yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun mempunyai kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, badan tegap, dan bunyi berat tepat sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan perempuan fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap agresi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat pribadi performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya sanggup dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku pengaruh perlakuan garang ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami semenjak kecil. Apakah sejatinya LaVona menyayangi sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan ketika kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Nasrani di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan ancaman lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal kontradiksi ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang impian Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang mengakibatkan perilaku keras Marion sangat sanggup dipahami. Sementara para pengajar sekolah Nasrani dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas kolam denah komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan sampaumur tamat secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan aksara yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga datang di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)

Kamis, 13 Desember 2018

Battle Of The Sexes/The Disaster Artist/The Meyerowitz Stories

Tiga film di bawah sama-sama menyoroti mereka yang terpinggirkan. Di Battle of the Sexes, para petenis perempuan dipandang sebelah mata, seolah tidak sama berharganya dengan petenis pria, The Disaster Artist memiliki Tommy Wiseau yang menjadi target empuk olok-olok tanggapan The Room yang melegenda, sementara The Meyerowitz Stories (New and Selected) bertutur soal seniman yang terlupakan, juga seorang laki-laki pengangguran yang merasa sang ayah lebih mencintai kakaknya.

Battle of the Sexes (2017)
Film biografi bertema olahraga biasanya mengedepankan usaha tokohnya memenangkan pertandingan dengan tujuan final merengkuh gelar juara. Para petenis perempuan di Battle of the Sexes pun berjuang untuk menang. Bukan demi piala berkilau atau pundi-pundi uang, melainkan kesetaraan gender. Petenis perempuan nomor satu pada 1973, Billie Jean King (Emma Stone), menolak begitu saja mendapatkan fakta perempuan hanya dibayar seperdelapan dari pria. Bersama beberapa  petenis perempuan lain, ia pun nekat membentuk WTA (Women’s Tennis Association) dengan dana seadanya dan menggelar tur sendiri. Stone, selain bersenjatakan senyum yang punya jangkauan verbal luas (dari sarkasme hingga kebahagiaan berbunga-bunga), juga meyakinkan dalam bergerak di atas lapangan. Caranya merayakan poin, berjalan sambil bersiasat, memasang kuda-kuda, semua menampakkan pengalaman petenis unggulan. Pun perihal akurasi, duo sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris (Little Miss Sunshine, Ruby Sparks) bisa mereka ulang detail (pernikahan di dingklik penonton, spanduk yang bertebaran) event legendaris Battle of the Sexes, kala Billie Jean bertanding melawan Larry Riggs (Steve Carell), mantan petenis top yang ingin menandakan bahwa laki-laki lebih superior dari wanita. Sebelum third act, kita urung dipamerkan seberapa hebat kemampuan Billie Jean, ketika Battle of the Sexes lebih tertarik menyoroti affair-nya dengan sang penata rambut, Marilyn Barnett (Andrea Riseborough). Namun mungkin itulah poinnya. Battle of the Sexes yaitu film dalam lingkup tenis yang tak mengutamakan tenis, melainkan usaha kaum marginal, meski usaha cinta Billie Jean tampil tak sesimpatik seharusnya. (3.5/5)

The Disaster Artist (2017)
Apa yang ada di kepala Tommy Wiseau dikala menciptakan The Room? Kenapa banyak momen acak tak berkesinambungan? Kenapa dialognya aneh? Kenapa akting pemainnya amat buruk? Kenapa menggunakan CGI alih-alih mengambil gambar di atap gedung sungguhan. The Disaster Artist memberi pencerahan mengenai setumpuk tanya di atas. Bukan jawaban pasti. Sebab dari mana Wiseau berasal, mengapa kekayaannya seolah tanpa ujung, dan berapa usia pastinya tetaplah misteri. Namun naskah buatan Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang mengadaptasi buku non-fiksi berjudul sama karya Greg Sestero dan Tom Bissell piawai mengaitkan deretan kecacatan Wiseau (James Franco) jadi kesatuan cerita seputar mimpi dan persahabatan. Kita diajak melihat bahwa seluruh keputusan janggal Wiseau sejatinya bentuk solidaritas juga ungkapan sayang terhadap sahabat. Setidanya itu yang Greg Sestero (Dave Franco) percaya. The Disaster Artist bukan saja menjawab pertanyaan-pertanyaan wacana The Room, pula berpotensi mengubah persepsi. Dari salah satu tontonan terburuk sepanjang masa yang layak ditertawakan jadi karya dengan ketulusan dan passion selaku pondasi. Pancaran kegetiran di wajah Franco kala penonton tertawa terbahak-bahak di tengah pemutaran perdana akan menusuk hati, apalagi jikalau anda selama ini kerap menimbulkan Wiseau materi olok-olok. Franco sendiri tak hanya menggandakan gerak dan tutur Wiseau yang ganjil, tetapi total meresapi, kemudian sepenuhnya bertransformasi. Sebagai sutradara, keberhasilan Franco merekonstruksi ulang momen-momen ikonik The Room sampai ke detail terkecil patut diacungi jempol. Baik selaku studi karakter, biografi, maupun komedi kental kebodohan tingkah tokohnya, The Disaster Artist tampil unik nan efektif. (4.5/5)

The Meyerowitz Stories (2017)
Sebagai Danny Meyerowitz, Adam Sandler berkumis, berjalan pincang, tidak mengenakan kaus oblong andalannya. Singkatnya, ia meninggalkan sosok laki-laki kekanakan yang menempel berpengaruh dan mencirikan filmnya.  Danny yaitu putera Harold Meyerowitz (Dustin Hoffman), mantan pematung tersohor yang enggan mendapatkan kenyataan bahwa dirinya makin terlupakan. Total  Harold mempunyai tiga anak dari tiga komitmen nikah berbeda (kini ia tengah menjalani komitmen nikah keempat). Selain Danny ada Jean (Elizabeth Marvel), satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling tertutup, juga Matthew (Ben Stiller), putera kesayangan Harold yang sukses sebagai penasihat finansial. Merupakan kenikmatan melihat Sandler dan Stiller beradu memamerkan performa sensitif yang turut menyelipkan sisi komedik. Tampil ketiga kalinya di film Noah Baumbach, Stiller tampak telah terbiasa, gampang melakoni kecanggungan di sela-sela kegetiran duduk kasus keluarga. Namun sumber emosi terbesar tetap Sandler.  Melalui akting jujur nan hangat, dibuatnya paparan konflik ayah-anak yang ada terasa bernilai. Lewat senyum serta tatapan yang sulit ditebak, Sandler memberi kompleksitas yang tak kalah rumit dibanding problematika utama yang diangkat, yakni soal keluarga modern. Keluarga Meyerowitz tersusun atas satu ayah, banyak anak, banyak ibu, menghasilkan kepribadian, kisah, pula permasalahan beragam. The Meyerowitz Stories (New and Selected) menuturkan proses pemahaman tiga bersaudara Meyerowitz , bahwa rupanya mereka tidak serenggang dan seberbeda itu. Ingatan rancu Harold mengenai siapa yang sewaktu kecil dulu kerap menemaninya berkarya jadi bukti. Like most of Baumbach’s movies, The Meyerowitz Stories finds its sweetness in a quirkiness. (4/5)

Selasa, 11 Desember 2018

Padmaavat (2018)

Dalam epos Ramayana, Rama menyerbu Alengka untuk menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Laki-laki perkasa menolong perempuan tak berdaya memang formula yang jamak diterapkan. Dalam Padmaavat, selaku pembiasaan puisi epik Padmavat (1540) buatan Malik Muhammad Jayasi, tugas itu dibalik. Ratu Padmavati (Deepika Padukone) bersedia mendatangi Kesultanan Delhi guna membebaskan suaminya, Sultan Ratan Singh (Shahid Kapoor) dari Mewar, yang dikurung oleh Sultan Alauddin Khilji (Ranveer Singh). Seperti Rahwana terobsesi pada Shinta, Alauddin ingin merebut Padmavati dari Ratan. Padmavati tetap bangun tegak, bahkan melawan.

Dalam lingkup kerajaan zaman dulu di mana Ratu ialah barang milik Raja, tuturan women empowerment film ini sudah memadahi. Sanjay Leela Bhansali dan Prakash Kapadia selaku penulis naskah bisa mengangkat tema kekinian tanpa harus mengobrak-abrik citra abad lampau. Padmavati ialah istri kedua Ratan, yang di awal pertemuannya tidak sengaja memanah sang Sultan. Sebagai Ratu, sosoknya amat dipuja alasannya ialah kecantikan luar biasa. Mukjizat Tuhan. Demikian salah satu kebanggaan yang dialamatkan padanya.
Deepika memang tepat memerankan Ratu yang kecantikannya disebut sanggup membuat malaikat merasa malu. Mengenakan busana spektakuler termasuk lehenga yang ia kenakan ketika menari dan menyanyikan Ghoomar, Deepika luar biasa anggun. Bersanding bersama dekorasi yang dipenuhi properti glamor nan berkilau serta gesekan dinding estetis, Padmaavat benar-benar terlihat megah. Padahal jumlah setting-nya tak sedikit. Bangunan Kerajaan Mewar tentu sangat luas dan filmnya bisa mengesankan itu dengan cara menampakkan bermacam-macam jenis ruangan. Pemilihan gerak dan sudut kamera oleh sinematografer Sudeep Chatterjee pun turut menonjolkan kemegahan tersebut semaksimal mungkin.

Sedangkan di lokasi outdoor, barisan landscape tanah gersang bercampur angin kencang pasir membungkus peperangan epic. Dalam peperangan, Alauddin ialah jagonya. Meyakini bahwa seluruh barang berharga merupakan miliknya, ia menghancurkan aneka macam kerajaan sebelum akirnya merebut tatha Sultan Delhi. Ranveer Singh mengakibatkan Sultan berdarah hirau taacuh ini antagonis over-the-top yang mengerikan. Walau menyerupai kenyataan cukup umur ini, tokoh jahat paling menjijikkan ialah iblis mesum berkedok hebat spiritual/pemuka agama menyerupai Raghav Chetan si Pendeta yang mengkhianati Mewar.
Karena bujuk rayu Raghav, Alauddin terobsesi meruntuhkan Mewar demi mendapat Padmavati. Sang Ratu sendiri, khususnya di paruh awal, lebih banyak berada di balik layar, seolah pasif di tengah konflik dua kerajaan. Tapi ia tidak berdiam diri. Ketimbang semata otot layaknya orang barbar Padmavati mengutamakan siasat. Sekalinya turun tangan, ia bisa mengguncang. Baik tindakan dan ucapannya menghadirkan dampak, tak ada yang sia-sia. Inilah cara efektif naskahnya menggambarkan seorang perempuan tangguh di abad dahulu.

Durasi yang mencapai 164 menit sekilas terdengar melelahkan, apalagi alurnya bergerak mengikuti pakem standar nihil modifikasi maupun kelokan sedikitpun. Tapi kepiawaian sutradara Sanjay Leela Bhansali (Bajirao Mastani) mengemas narasi membuat tempo stabil yang nyaman diikuti, tidak terlalu menyeret, tidak pula terburu-buru. Alhasil intensitas sanggup dijaga dengan baik sehingga perjalanan nyaris tiga jam urung terasa membosankan. Padmaavat merupakan kemegahan yang wajib disaksikan di layar lebar.

Senin, 10 Desember 2018

Downsizing (2017)


Beberapa respon negatif kritikus atau penonton umum untuk film ketujuh Alexander Payne (The Descendants, Sideways) ini dominan bermuara pada kesimpulan bahwa terlampau banyak gagasan coba dirangkum sehingga gagal mengenai sasaran. Mereka ingin filmnya meninggalkan efek signifikan, menggerakkan hati, atau mungkin berpartisipasi terhadap dunia yang lebih baik. Seperti impian besar Paul Safranek (Matt Damon) memberi donasi menyelamatkan lingkungan beserta umat insan di dalamnya. Sayangnya, ia tidak kunjung mencicipi kebahagiaan.

Terhimpit perkara keuangan, Paul mengajak sang istri, Audrey (Kristen Wiig) mengikuti aktivitas Downsizing alias mengecilkan badan demi memperbaiki kehidupan (1 dollar dunia normal sanggup bernilai 1000 kali di dunia mini) sekaligus turut serta menuntaskan perkara overpopulasi. Setidaknya demikian isi pikiran Paul dan para ilmuwan di balik terciptanya teknologi tersebut. Segera, mereka menemukan betapa yang perlu diperbaiki bukan cuma infrastruktur, pula insan itu sendiri.
Orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan saling melukai hati mendominasi Downsizing. Paul terpukul ketika tahu Audrey membatalkan niat mengecilkan badan di detik terakhir. Payne telah menyiratkan itu kepada penonton semenjak adegan wawancara. Paul tampak yakin, sementara dari tatapan matanya pun, Audrey terlihat diselimuti rasa ragu (Wiig menjual keraguan itu dengan baik). Kita menyadari itu, tetapi Paul tidak. Audrey bersalah mendadak membatalkan rencana hanya alasannya yaitu alis dan rambutnya dipangkas habis, namun Paul yang gagal memahami kegundahan istrinya pun sama saja.

Paul layaknya aktivits yang berkoar-koar soal bermacam-macam gosip tapi tak lebih dari sosok egois yang memaksakan kemauannya. Tapi Paul sulit bahagia. Kemudian ia bertemu Dušan Mirković (Christoph Waltz), penggila pesta yang terang-terangan menyatakan mengikuti aktivitas Downsizing demi kepentingan bisnis. Dušan senantiasa senang di tengah kejujuran soal ketidakpeduliannya. Sampai Ngoc Lan Tran (Hong Chau), pencetus asal Vietnam yang dipaksa mengecilkan tubuhnya hadir. Di mata Payne, Ngoc Lan yaitu sosok ideal. Bekerja sebagai petugas kebersihan, Ngoc Lan dibayar dengan kuliner sisa atau obat-obatan yang ia berikan pada mereka yang membutuhkan. Dia melaksanakan hal dengan efek nyata.
Hong Chau luar biasa memerankan Ngoc Lan. Ketika lisan eksentrik Waltz dan wajah kebingungan Damon “sekedar” jadi pondasi komedi, Hong Chau juga mengemban beban mengangkat porsi dramatik. Dia lucu dan berenergi. Memakai Bahasa Inggris beraksen, Hong Chau bicara semaunya, mengatrol daya tarik film tiap kali ia terlibat di layar. Memasuki paruh akhir, sempat ditampilkannya sensitivitas dalam sebuah monolog yang oleh Payne ditangkap memakai close up tanpa putus sehingga kekuatan emosi sang aktris terpampang jelas. Monolog yang semestinya menyegel posisinya selaku peraih nominasi Oscar.

Payne melemparkan banyak gosip yang sekilas disederhanakan konklusinya alasannya yaitu menekankan pada “kita harus berbuat baik”. Tapi bukankah itu akar dari segala kemajuan? Kebaikan dan kebahagiaan. Itulah mengapa ketimbang menggali lebih jauh kerumitan-kerumitan konsep tingginya, Payne mengajak penonton untuk tertawa lewat komedi visual yang diisi keanehan-keanehan, dari kepala dan alis botak Matt Damon sampai tubuh-tubuh kecil telanjang yang diambil kolam makanan. Sang sutradara sekaligus penulis naskah hanya sering terlalu santai, berujung menghasilkan sederet momen yang mestinya sanggup diakhiri beberapa menit lebih cepat.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...