Tampilkan postingan dengan label Sangat Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sangat Bagus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

A Letter To The President (2017)

Selain mewakili Afganistan dalam ajang Academy Awards tahun depan, A Letter to the President mengundang perhatian sebagai film karya sutradara perempuan pertama pasca berakhirnya rezim Taliban, Roya Sadat. Mendirikan perusahaan Roya Film House di ruang bawah tanah apartemen, menjalani pengambilan gambar selama 40 hari secara sembunyi-sembunyi sambil mengurus bayinya, menanggung biaya produksi sendiri dengan menjual kendaraan, apartemen, juga perhiasan. Perjuangan berat itu terbayar lunas tatkala sekitar 60 orang penonton lokal kompak bertepuk tangan merespon adegan terbaik filmnya.

Respon itu mengejutkan Roya, mengingat A Letter to the President berani menggoncang patriarki yang turun temurun diberlakukan di Afganistan menurut interpretasi semau sendiri terhadap aturan Islam. Sesuai judulnya, tokoh utama film ini, Soraya (Leena Alam) mengirim surat untuk Presiden Afganistan (Mammnon Maghsodi), mengharapkan proteksi sehabis dirinya divonis mati oleh pengadilan. Lalu kisahnya kembali ke belakang, mengungkap kejahatan yang dituduhkan ke Soraya yang berprofesi sebagai kepala divisi penegakan kriminal di Kabul. 
A Letter to the President menunjukkan mengapa film pengusung feminisme sebaiknya ditangani pula oleh wanita. Roya melahirkan sosok Soraya yang kokoh, pantang mundur sekaligus berani melawan tekanan laki-laki yang merasa maskulinitas serta harga diri mereka tercoreng. Diawali keputusannya enggan menyerahkan perempuan pelaku zina pada tetua setempat guna diadili, Soraya menciptakan Komandan Essmat (Abdul Qader Aryaee) selaku anggota Taliban penguasa Kabul, mertuanya (Asad-Ullah Tajzai) yang seorang gangster, dan suaminya, Karim (Mahmood Rub), kebakaran jenggot. 

Kecuali bagi kaum seksis, sejam pertama A Letter to the President begitu mengobrak-abrik emosi. Pekerjaan Soraya yang memaksanya kerap pulang malam dipandang malu keluarga, sementara Karim terhina jawaban sang ayah menganggapnya laki-laki tak mempunyai kegunaan yang gagal mengatur istri. Ketidakadilan plus kemunafikan sistem patriarki berkedok syariah mencapai puncaknya sewaktu Karim bebas mabuk-mabukan hingga larut, bahkan menenggak alkohol di depan anak-anaknya. Sebaliknya, ketika mendengar kabar Soraya menyentuh minuman keras di suatu pesta yang belum tentu faktual, Karim naik darah, mencap Soraya perempuan amoral, menodongkan pistol di kepala istrinya. 
Tindakan adikara laki-laki yaitu racun di sini, termasuk yang tidak disadari, menyerupai ketika kebodohan Behzad (Aziz Deldar) si fotografer memberi efek paling destruktif bagi Soraya. Tapi Soraya menolak hancur. Disokong kilatan mata Leena Alam yang tak pernah redup seberat apapun cobaan mendera. Soraya melangkah mantap, menghadiahi kita salah satu adegan paling powerful dalam sejarah sinema feminis berupa tamparan telak di wajah penindas hak wanita. Tidak hanya 60 penonton Afganistan saja yang bertepuk tangan, saya pun sontak melaksanakan hal serupa. 

Babak simpulan A Letter to the President, ketika fokus berpindah menuju pemeriksaan Behzad, lebih banyak menyoroti para laki-laki ketimbang Soraya, yang notabene merupakan daerah nyawa filmnya bersemayam. Beberapa pengadeganan terkesan menyeret, tidak begitu solid membangun suasana "berpacu dengan waktu", berujung melemahkan intensitas pula konklusi yang mestinya menciptakan kita tersentak. Untungnya, kekurangan tersebut urung menahan laju A Letter to the President menyeruak di jajaran film terbaik sekaligus terpenting tahun ini. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Senin, 17 Desember 2018

Wonder (2017)

Jarang ada film ibarat ini, yang tiap adegan, kalimat di naskah, serta akting, disusun dengan hati. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya R.J. Palacio, Wonder termasuk satu dari sedikit tontonan yang mengembalikan kepercayaan bahwa Hollywood masih menyimpan sensitivitas rasa. Nampak semenjak sekuen pembuka saat voice over Auggie Pullman (Jacob Tremblay) terdengar, bercerita mengenai proses kelahirannya bagai komedi. Tapi kejenakaan hasil kegugupan sang ayah, Nate (Owen Wilson), menjadi kegetiran tatkala lewat nadar sarkas Auggie mengungkap "punchline" komedi tersebut yang memancing kepanikan di ruang persalinan. Dirinya terlahir cacat.

Auggie mengidap sindrom langka Treacher Collins yang menimbulkan kelainan bentuk wajah. Beberapa kali operasi pun tak banyak menolong. Walau demikian impiannya melayang tinggi, kolam astronot  yang kerap ia kenakan helmnya  terbang di luar angkasa, sementara petualangan tanpa batas Star Wars jadi kegemarannya. Sampai sang ibu, Isable (Julia Roberts) memutuskan datang waktunya Auggie mengikuti sekolah publik guna mengenal dunia luar. Tatapan aneh, ejekan, pengasingan, hingga pengkhianatan mesti dihadapi, sedangkan di ketika bersamaan, sang kakak, Via (Izabela Vidovic) merasa dilupakan oleh kedua orang tuanya yang selalu memperhatikan Auggie. 
Sutradara Stephen Chbosky yang turut menulis naskah bersama Jack Thorne dan Steve Conrad cerdik menangani perumpamaan dalam novelnya terkait kondisi protagonis dan tata surya. Didasari gagasan bahwa Auggie layaknya matahari dengan benda-benda semesta lain mengorbit, mengelilinginya. Kelainan Auggie tidak dipandang selaku kelemahan, melainkan magnet yang menarik orang-orang di sekitarnya berguru mengenai hidup sembari perlahan ikut menjelma lebih kuat. Pemberian fokus terhadap beberapa tokoh pendukung (ditandai sub-judul nama mereka) sayangnya terasa lebih cocok diterapkan dalam bahasa buku ketimbang narasi film. 

Auggie terang menderita, tetapi Chobsky yang telah berpengalaman menggarap film berisi sosok-sosok terasing lewat The Perks of Being a Wallflower enggan mengeksploitasi penderitaan. Wonder tidak berusaha meratap demi menyedot belas kasihan, melainkan usungan pesan soal kesetaraan, bahwa Auggie harus diperlakukan serupa bocah lain. Tak hanya hal aktual saja. Dia pun berhak mengalami pengkhianatan dalam lingkup pertemanan, pula diberi pemahaman kalau tidak semua hal menyangkut dirinya sebagaimana terlontar dari lisan Via. Banyak film seputar disabilitas justru berkontribusi makin membedakan subjek, namun Wonder tidak.
Bahasa tutur Stephen Chobsky meneriakkan keajaiban kental imaji. Dari cameo Chewbacca hingga visualisasi bayangan Auggie mengenakan seragam astronot lengkap yang berulang kali hadir mewakili isi hati sang tokoh. Dari momen-momen asing tersebut emosinya berasal. Di sisi lain, Chobsky turut mempunyai kepekaan menangani momen sederhana khususnya interaksi antara keluarga Pullman, di mana ketelatenan membangun tempo ditambah pemakaian medium shot plus close-up sebagai upaya mengutamakan obrolan beserta akting, merupakan senjata andalan sang sutradara memberikan rasa. 

Keseimbangan Owen Wilson memainkan porsi komedi dan drama menghasilkan kehangatan, sedangkan Izabela Vidovic piawai melakoni kompleksitas batin, hasilnya kasus Via gampang dipahami sekaligus mengundang simpati. Tapi Julia Roberts dan Jacop Tremblay merupakan inti penggagas emosi film ini. Tatkala balutan prosthetic tak menghalangi Tremblay unjuk kebolehan menghanyutkan hati penonton, Julia Roberts menghantarkan salah satu performa paling murni sepanjang karirnya, dengan sensibilitas tinggi. Jangkauannya luas, dari senyum bahagia, amarah, haru, hingga kesedihan. Seluruhnya berakhir mengalirkan air mata saya. 

Minggu, 16 Desember 2018

Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats

Kumpulan review pendek kali ini dibuka oleh Ingrid Goes West, satir mengenai kultur media umum khususnya Instagram yang mestinya memantapkan posisi Aubrey Plaza di jajaran aktris kelas satu Hollywood. Pada Festival Film Sundance 2017, David Branson Smith dan Matt Spicer meraih Waldo Salt Screenwriting Award untuk naskah terbaik. Berikutnya Mother!, horor psikologis karya Darren Aronofsky yang membelah penonton menjadi dua kubu sekaligus menyulut kontroversi terkait alegori mengenai Alkitab. Terakhir ada Beach Rats, film bertema LGBT yang juga berjaya di Sundance, membawa Eliza Hittman meraih sutradara terbaik.

Ingrid Goes West (2017)
Budaya media umum bukan saja telah menjamur, juga beracun. Nampak pada tingkah Ingrid (Aubrey Plaza) yang menguntit selebgram asal L.A., Taylor (Elizabeth Olsen), meniru caranya berpakaian, makanan favorit, hingga alat mandi. Ingrid serupa sampaumur kini yang rela menggandakan jati diri (baik literal maupun metaforikal) demi status dunia maya walau tanpa kehidupan dunia nyata. Arah alur gampang ditebak, tapi kekuatan utama film ini yaitu observasi soal ragam sikap destruktif pengguna media sosial, dari perjuangan mendaki kasta, stalking, hingga obsesi pendorong kesediaan meniru sang idola. Topik ini spesifik tapi relevan bagi tiap situasi juga era, bahkan sebelum Instagram merajalela. Selain setia bergaya canggung, Plaza menunjukan kapasitas memainkan nada serius, ahli dalam memaparkan fluktuasi emosi. Berkatnya, pengamatan kita menghasilkan efek beragam, sesekali menaruh kasihan, kadang menertawakan, menikmati kala Ingrid kena batunya. Olsen sebaliknya, benderang, layaknya sosok ideal yang menciptakan orang ingin berteman bahkan menjadi dirinya. Titik rendah filmnya terletak di konklusi kurang tegas, ingin melanjutkan satir ke tataran lebih jauh atau mengusung pesan positif yang justru berujung justifikasi pada pihak yang disindir. (3.5/5)

Mother! (2017)
Melalui Mother!, Aronofosky tidak tertarik menyadarkan apalagi menginspirasi. Sepertinya fase itu sudah usang berlalu, menyisakan amarah yang menanti tercurah. Aronofosky murka pada banyak pihak, dari sikap semau sendiri dan ketidakpedulian insan yang melukai Mother Nature (Jennifer Lawrence), pula representasi Tuhan dalam sosok Him (Javier Bardem) yang menurutnya tergila-gila akan puja-puji. Guna menuturkan interpretasi lepas dari Kitab Kejadian ini, pemakaian narasi konvensional memang sulit dilakukan, sehingga gaya metaforikal bersifat perlu, bukan pretensius. Meski bertebaran simbol, alur yang tetap mengikuti kaidah tiga babak (awal-tengah-akhir) memudahkan penonton menyusun keping teka-teki. Jangan khawatir daya tariknya hilang begitu tema besar terpecahkan, alasannya Mother! masih menyimpan setumpuk absurditas selaku perhiasan detail cerita, dengan titik puncak gila sebagai penegas bahwa kemampuan Aronofsky mengganggu batin penonton, yang tampak semenjak awal karirnya, belum luntur. Aronofsky sukses menjahit rapi hikayat Bibel versinya ke dalam konflik suami-istri yang masing-masing sanggup bangun sendiri. (4.5/5)

Beach Rats (2017)
Pencarian jati diri, konformitas, hubungan keluarga yang berjarak. Eliza Hittman menerapkan lika-liku dunia sampaumur itu dalam lingkup LGBT. Frankie (Harris Dickinson) rutin menghabiskan malam di depan komputer menelusuri gay chat room untuk mencari laki-laki lebih tua. Meski demikian, beliau enggan mengaku gay, punya pacar perempuan walau sulit terangsang kala berafiliasi seks, bersahabat, menghisap ganja bersama tiga mitra yang menganggap hubungan sesama jenis menggelikan pula menjijikkan. Bahwa sampaumur bersedia menyangkal identitas, menyesuaikan dengan "norma" semoga diakui, jadi sorotan utama Hittman. Dickinson memberi ketenangan namun dinamis dalam bertukar kalimat. Performa ini selaras dengan "topeng" Frankie yang menyimpan problem sembari ingin tampak "normal" di lingkungan sosial. Hélène Louvart menggunakan kamera 16mm, merangkai kelembutan malam minim cahaya, menghasilkan gambar-gambar yang menyokong perasaan karakternya. Sementara Hittman membungkus adegan seks melalui kelembutan serupa, meniadakan kesan vulgar murahan. Solid, tapi Beach Rats takkan bertahan usang di ingatan akhir ketiadaan pembeda dibanding drama indie low budget kebanyakan (visual stylish, slow burning). Terlebih penokohannya kurang mendalam, sebatas melayani tugas masing-masing ("the distant mother", "the girlfriend", "the asshole homophobic friends") tanpa kepribadian menarik. (3.5/5)

Jumat, 14 Desember 2018

City Of Ghosts / Victoria & Abdul / Marjorie Prime

Anda masih menganggap enteng bahaya ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibentuk kolam neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di cuilan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok cerita persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime mengatakan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati insan sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala insan dipertontonkan, belum dewasa dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja lantaran pemandangan kejam. Horor sebenarnya hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa berpengaruh mereka?". Dan menyerupai diutarakan satu narasumber, ISIS yakni gagasan, sanggup tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk mendapatkan cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat dominan rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas dampak emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup jalan masuk isu Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak cerita luar biasa di internet. Tapi apakah kegiatan itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, erat dengannya, menentukan meninggalkan tanah air dan hidup glamor di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada insan haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) yakni pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) sampai seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain impian memperbaiki hidup, mengesankan beliau hanya social climber biasa. Ada perjuangan memanusiakan Victoria sebagai perempuan bau tanah kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, alasannya yakni beliau yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, perempuan ramah tapi ringkih yang membutuhkan mitra di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai aristokrat yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam kendaraan beroda empat mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati sanggup diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), perempuan bau tanah penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang mempunyai wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari isu yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah lantaran ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui formasi dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan insan utuh, tapi menolong insan menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)

Call Me By Your Name / I, Tonya / Lady Bird

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada ekspresi dominan penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, pembiasaan novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat dongeng hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, hingga Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan sesudah menciptakan Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi manis Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap ekspresi dominan panas di perkampungan Italia cuilan Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name ialah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta sampaumur 17 tahun berjulukan Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), laki-laki berusia jauh lebih bau tanah yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun mempunyai kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, badan tegap, dan bunyi berat tepat sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan perempuan fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap agresi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat pribadi performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya sanggup dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku pengaruh perlakuan garang ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami semenjak kecil. Apakah sejatinya LaVona menyayangi sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan ketika kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Nasrani di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan ancaman lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal kontradiksi ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang impian Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang mengakibatkan perilaku keras Marion sangat sanggup dipahami. Sementara para pengajar sekolah Nasrani dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas kolam denah komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan sampaumur tamat secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan aksara yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga datang di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)

Kamis, 13 Desember 2018

Battle Of The Sexes/The Disaster Artist/The Meyerowitz Stories

Tiga film di bawah sama-sama menyoroti mereka yang terpinggirkan. Di Battle of the Sexes, para petenis perempuan dipandang sebelah mata, seolah tidak sama berharganya dengan petenis pria, The Disaster Artist memiliki Tommy Wiseau yang menjadi target empuk olok-olok tanggapan The Room yang melegenda, sementara The Meyerowitz Stories (New and Selected) bertutur soal seniman yang terlupakan, juga seorang laki-laki pengangguran yang merasa sang ayah lebih mencintai kakaknya.

Battle of the Sexes (2017)
Film biografi bertema olahraga biasanya mengedepankan usaha tokohnya memenangkan pertandingan dengan tujuan final merengkuh gelar juara. Para petenis perempuan di Battle of the Sexes pun berjuang untuk menang. Bukan demi piala berkilau atau pundi-pundi uang, melainkan kesetaraan gender. Petenis perempuan nomor satu pada 1973, Billie Jean King (Emma Stone), menolak begitu saja mendapatkan fakta perempuan hanya dibayar seperdelapan dari pria. Bersama beberapa  petenis perempuan lain, ia pun nekat membentuk WTA (Women’s Tennis Association) dengan dana seadanya dan menggelar tur sendiri. Stone, selain bersenjatakan senyum yang punya jangkauan verbal luas (dari sarkasme hingga kebahagiaan berbunga-bunga), juga meyakinkan dalam bergerak di atas lapangan. Caranya merayakan poin, berjalan sambil bersiasat, memasang kuda-kuda, semua menampakkan pengalaman petenis unggulan. Pun perihal akurasi, duo sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris (Little Miss Sunshine, Ruby Sparks) bisa mereka ulang detail (pernikahan di dingklik penonton, spanduk yang bertebaran) event legendaris Battle of the Sexes, kala Billie Jean bertanding melawan Larry Riggs (Steve Carell), mantan petenis top yang ingin menandakan bahwa laki-laki lebih superior dari wanita. Sebelum third act, kita urung dipamerkan seberapa hebat kemampuan Billie Jean, ketika Battle of the Sexes lebih tertarik menyoroti affair-nya dengan sang penata rambut, Marilyn Barnett (Andrea Riseborough). Namun mungkin itulah poinnya. Battle of the Sexes yaitu film dalam lingkup tenis yang tak mengutamakan tenis, melainkan usaha kaum marginal, meski usaha cinta Billie Jean tampil tak sesimpatik seharusnya. (3.5/5)

The Disaster Artist (2017)
Apa yang ada di kepala Tommy Wiseau dikala menciptakan The Room? Kenapa banyak momen acak tak berkesinambungan? Kenapa dialognya aneh? Kenapa akting pemainnya amat buruk? Kenapa menggunakan CGI alih-alih mengambil gambar di atap gedung sungguhan. The Disaster Artist memberi pencerahan mengenai setumpuk tanya di atas. Bukan jawaban pasti. Sebab dari mana Wiseau berasal, mengapa kekayaannya seolah tanpa ujung, dan berapa usia pastinya tetaplah misteri. Namun naskah buatan Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang mengadaptasi buku non-fiksi berjudul sama karya Greg Sestero dan Tom Bissell piawai mengaitkan deretan kecacatan Wiseau (James Franco) jadi kesatuan cerita seputar mimpi dan persahabatan. Kita diajak melihat bahwa seluruh keputusan janggal Wiseau sejatinya bentuk solidaritas juga ungkapan sayang terhadap sahabat. Setidanya itu yang Greg Sestero (Dave Franco) percaya. The Disaster Artist bukan saja menjawab pertanyaan-pertanyaan wacana The Room, pula berpotensi mengubah persepsi. Dari salah satu tontonan terburuk sepanjang masa yang layak ditertawakan jadi karya dengan ketulusan dan passion selaku pondasi. Pancaran kegetiran di wajah Franco kala penonton tertawa terbahak-bahak di tengah pemutaran perdana akan menusuk hati, apalagi jikalau anda selama ini kerap menimbulkan Wiseau materi olok-olok. Franco sendiri tak hanya menggandakan gerak dan tutur Wiseau yang ganjil, tetapi total meresapi, kemudian sepenuhnya bertransformasi. Sebagai sutradara, keberhasilan Franco merekonstruksi ulang momen-momen ikonik The Room sampai ke detail terkecil patut diacungi jempol. Baik selaku studi karakter, biografi, maupun komedi kental kebodohan tingkah tokohnya, The Disaster Artist tampil unik nan efektif. (4.5/5)

The Meyerowitz Stories (2017)
Sebagai Danny Meyerowitz, Adam Sandler berkumis, berjalan pincang, tidak mengenakan kaus oblong andalannya. Singkatnya, ia meninggalkan sosok laki-laki kekanakan yang menempel berpengaruh dan mencirikan filmnya.  Danny yaitu putera Harold Meyerowitz (Dustin Hoffman), mantan pematung tersohor yang enggan mendapatkan kenyataan bahwa dirinya makin terlupakan. Total  Harold mempunyai tiga anak dari tiga komitmen nikah berbeda (kini ia tengah menjalani komitmen nikah keempat). Selain Danny ada Jean (Elizabeth Marvel), satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling tertutup, juga Matthew (Ben Stiller), putera kesayangan Harold yang sukses sebagai penasihat finansial. Merupakan kenikmatan melihat Sandler dan Stiller beradu memamerkan performa sensitif yang turut menyelipkan sisi komedik. Tampil ketiga kalinya di film Noah Baumbach, Stiller tampak telah terbiasa, gampang melakoni kecanggungan di sela-sela kegetiran duduk kasus keluarga. Namun sumber emosi terbesar tetap Sandler.  Melalui akting jujur nan hangat, dibuatnya paparan konflik ayah-anak yang ada terasa bernilai. Lewat senyum serta tatapan yang sulit ditebak, Sandler memberi kompleksitas yang tak kalah rumit dibanding problematika utama yang diangkat, yakni soal keluarga modern. Keluarga Meyerowitz tersusun atas satu ayah, banyak anak, banyak ibu, menghasilkan kepribadian, kisah, pula permasalahan beragam. The Meyerowitz Stories (New and Selected) menuturkan proses pemahaman tiga bersaudara Meyerowitz , bahwa rupanya mereka tidak serenggang dan seberbeda itu. Ingatan rancu Harold mengenai siapa yang sewaktu kecil dulu kerap menemaninya berkarya jadi bukti. Like most of Baumbach’s movies, The Meyerowitz Stories finds its sweetness in a quirkiness. (4/5)

Selasa, 11 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017
Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017, Orasi dalam film sering digunakan selaku alat penyulut emosi, dan Darkest Hour yakni film di mana orasi mendominasi, menjadi pondasi alur. Masuk akal, mengingat karya teranyar Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, Anna Karenina) ini mengisahkan sosok Winston Churchill (Gary Oldman) yang dikenal sebagai orator handal. Tidak ada yang bisa merangkai kata sebaik dirinya. Setidaknya berdasarkan sang sekretaris, Elizabeth Layton (Lily James). Pernyataan itu sulit disangkal. Suatu saat Lord Privy Seal menelepon kala Churchill sedang berada di toilet. Responnya menggelitik: “Please tell the Privy Seal that I’m sealed in the privy and I can only deal with one shit at a time”. 

Darkest Hour

Anthony McCarten menyelipkan humor dalam naskahnya, entah permainan kata menyerupai di atas atau comedy of manners sebagaimana nampak di pertemuan  canggung Churchill dan Raja George VI (Ben Mendelsohn) pasca ia ditunjuk selaku Perdana Menteri menggantikan Neville Chamberlain (Ronald Pickup) di masa Perang Dunia II . Neville mungkin Perdana Menteri yang baik kala damai, namun lain dongeng di tengah peperangan. Churchill dengan kegigihan untuk maju menghadang Nazi pun dipilih, meski banyak pihak mewaspadai kapasitasnya, terlebih pasca Gallipoli yang memakan korban ratusan ribu pasukan Inggris.

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017
Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017

Jalan Cerita Filim Darkest Hour

Darkest Hour bersedia menyibak kelemahan Churchill. Ketika Viscount Halifax (Stephen Dillane) terang-terangan menyebut bencana Gallipoli diakibatkan keputusan Churchill tepat di depan matanya, terbersit keraguan di respon sang Perdana Menteri, walau ia tetap berkelit menolak disalahkan. Mungkin jauh dalam hati kecilnya, Churchill menyadari telah berbuat salah. Dia bermental baja, pantang menyerah, keras kepala, tapi bukannya tidak mungkin dirobohkan. Mencapai satu titik, Churchill sempat terjerembab ke lubang gelap, ketakutan, meragu, bahkan kehilangan kata-kata yang mana yakni keahliannya.

Churchill terbentur dilema. Terus melawan dengan resiko makin banyak nyawa prajurit melayang, atau oke berdamai yang berarti membuka jalan Nazi makin berkuasa, dan kemungkinan besar melucuti kemerdekaan Inggris. Banyak film membawa kita ke tengah medan perang. Di sana, wajah politikus dan pemegang tampuk kekuasaan selalu sama: orang-orang tanpa hati yang mengirim prajurit untuk mati sedangkan mereka bersembunyi di balik benteng tebal di rumah sendiri. Darkest Hour menyuguhkan perspektif lain, menyoroti yang terjadi di ruang Parlemen, apa yang dilakukan pria-pria berjas selaku pemilik kekuasaan.

Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017
Ringkasan Cerita Filim Darkest Hour 2017

Persoalan di balik layar ini bisa mengaduk rasa lewat pidato Churchill yang seolah bisa menggerakkan api usaha rakyat. Wright, dalam salah satu penyutradaraan terbaiknya, menyulap orasi di rapat Parlemen yang remang-remang atau siaran radio di bawah siraman lampu merah jadi momen mencengkeram dada. Musik Dario Marianelli membantu mengangkat emosi sembari tetap menjadi keping estetika yang sanggup dinikmati sendiri, sementara sinematografi Bruno Delbonnel menghadirkan sekuen luar biasa berpengaruh yang kemunculannya tak terduga (petunjuk: melibatkan mata jenazah). Dramatisasi Wright efektif, keputusan menyelipkan adegan fiktif manipulatif sewaktu Churchill menemui rakyat di kereta bawah tanah pun bisa dimaklumi. Bahkan adegan itu yakni poros emosi yang memberi cukup latar belakang terkait keputusan Churchill.

Selain Wright, Gary Oldman turut melaksanakan dramatisasi. Bila anda mendengar rekamannya, orasi Churchill menggugah namun tak sedemikian berapi-api layaknya Oldman. Dampaknya sempurna. Tiap kali ia mulai bertutur, seketika itu pula hati ini menyerupai diremas-remas, terhanyut oleh kecerdikannya menyusun kata sekaligus tersulut berkat semangatnya. Bukan itu saja, Oldman hingga pada tingkat teratas seni peran, di mana ia merasuk begitu dalam, menyatu dengan tokoh yang dimainkan, hingga gestur-gestur kecil macam getaran bibir (beberapa kali ditonjolkan oleh Wright melalui close up) muncul secara alami selaku potongan dirinya. This is a performance so good it makes me cry. Wanita-wanita di sekitar Churchill pun memikat, dari Lily James si sekretaris sampai Kristin Scott Thomas sebagai istri Churchill, Clementine, yang meniupkan sepintas romantisme hangat.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...