Tampilkan postingan dengan label Documentary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Documentary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

Balada Bala Sinema (2017)

Saya percaya menonton film sanggup mencerdaskan bangsa. Keberadaannya memfasilitasi penyampaian ragam fenomena, informasi, dan pengetahuan dari penjuru dunia, juga menstimulus imajinasi. Balada Bala Sinema beserta subjeknya, Bowo Leksono dengan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga yang ia dirikan telah berjasa melaksanakannya. Dan teruntuk Bowo, sosoknya laksana guru besar sinema tanah air, setidaknya dalam lingkup komunitas dan ruang pemutaran alternatif, berkat perjuangannya memaparkan keindahan sinema bagi rakyat kampung yang tak tersentuh bioskop komersil. 

Diawali kesuksesan film pendek Peronika di 2004, dua tahun berselang Bowo mendirikan CLC yang menyediakan wadah berkarya siswa-siswi Purbalingga. Lalu setahun setelahnya, berbekal dana terbatas tanpa uluran dukungan sponsor maupun pemerintah setempat, ia mencetuskan Festival Film Purbalingga (awalnya berjulukan Parade Film Purbalingga) yang populer lewat kegiatan Layar Tanjleb selaku media penayangan film untuk masyarakat kampung seantero Banyumas Raya. Tentunya itu bukan suatu usaha mudah. 
Tanpa gaya berlebih menyerupai dokumenter kontemporer yang belakangan marak, Yuda Kurniawan murni memposisikan Balada Bala Sinema sebagai tontonan informatif. Kekuatannya bukan pada kekayaan estetika melainkan kelengkapan informasi, merangkum perjalanan panjang Bowo Leksono sedari mendirikan CLC, terlibat konflik dengan pemerintah Purbalingga terkait larangan menggunakan pendopo untuk memutar film yang berujung terciptanya dokumenter 30 menit berjudul Bioskop Kita Lagi Sedih, sampai membawa pelajar Purbalingga berjaya di banyak sekali ekspo film berskala nasional. 

Memakan waktu bertahun-tahun mengumpulkan stok gambar, memudahkan Yuda menyusun detail perjalanan subjeknya juga bisa menangkap momen-momen penting secara utuh. Balada Bala Sinema patut bersyukur dianugerahi narasumber yang pintar bercerita, bisa menyediakan kisah yang komplet sekaligus gampang dipahami sehingga nyaman diikuti. Tidak mengherankan, toh mayoritas dari mereka merupakan sutradara handal. Keputusan Yuda menentukan banyak menerapkan teknik talking head pun terbayar lunas. 
Kepiawaian Yuda Kurniawan bernarasi mengakibatkan film ini, meski tersusun atas beraneka macam konflik, tetap terjalin rapi pada satu benang merah yang mewakili semangat Bowo Leksono dan CLC, yaitu perjuangan. Dibuka oleh teks mengenai terbebasnya kekangan berkarya pasca Orde Baru, Balada Bala Sinema tak pernah lepas dari perjuangan, entah mengakali keterbatasan atau melawan represi pemegang (dan yang memaksakan) otoritas. Namun filmnya tak terhindar dari masalah, ketika footage melimpah jadi pisau bermata dua. Bagai sayang membuang stok, acap kali satu insiden berlangsung terlalu usang akhir disertakannya poin kurang substansial atau montage yang kepanjangan. 

Mencapai satu jam, Balada Bala Sinema pun sempat goyah dan kehilangan momentum, hingga mencapai konflik pamungkas tatkala CLC diserbu ormas berkedok pembela Pancasila alasannya ialah menyelenggarakan pemutaran Pulau Buru Tanah Air Beta. Di sinilah perlawanan bertabur gejolak emosi memasuki puncaknya. Kecerdikan Yuda terasa betul ketika tetapkan mewawancarai ketua ormas dengan para pengikutnya rutin berteriak "NKRI HARGA MATI!" di belakang. Daripada "cuma" menyulut kekesalan penonton (yang mana sukses dilakukan), Yuda menghadirkan momen emas berupa ucapan menggelikan menyerupai "boleh berguru sejarah asal jangan mengungkit yang sudah lewat". Kita pun diajak menertawakan kebodohan negeri ini. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Jumat, 14 Desember 2018

City Of Ghosts / Victoria & Abdul / Marjorie Prime

Anda masih menganggap enteng bahaya ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibentuk kolam neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di cuilan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok cerita persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime mengatakan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati insan sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala insan dipertontonkan, belum dewasa dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja lantaran pemandangan kejam. Horor sebenarnya hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa berpengaruh mereka?". Dan menyerupai diutarakan satu narasumber, ISIS yakni gagasan, sanggup tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk mendapatkan cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat dominan rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas dampak emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup jalan masuk isu Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak cerita luar biasa di internet. Tapi apakah kegiatan itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, erat dengannya, menentukan meninggalkan tanah air dan hidup glamor di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada insan haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) yakni pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) sampai seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain impian memperbaiki hidup, mengesankan beliau hanya social climber biasa. Ada perjuangan memanusiakan Victoria sebagai perempuan bau tanah kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, alasannya yakni beliau yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, perempuan ramah tapi ringkih yang membutuhkan mitra di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai aristokrat yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam kendaraan beroda empat mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati sanggup diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), perempuan bau tanah penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang mempunyai wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari isu yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah lantaran ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui formasi dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan insan utuh, tapi menolong insan menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...