Tampilkan postingan dengan label Science-Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science-Fiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2018

Tengkorak (2017)

Tengkorak adalah proyek yang berani. Sutradara sekaligus penulis skenario, Yusron Fuadi, memanfaatkan komponen fiksi ilmiah guna menyentil banyak sekali karakteristik masyarakat Indonesia, dari inferioritas terhadap bangsa asing, hingga yang paling kental, tugas agama. Mengingat film ini diproduksi Sekolah Vokasi UGM dan status Yusron sendiri selaku dosen jadwal studi Komputer dan Sistem Informasi, ketepatan aspek sains filmnya pun menjanjikan. Usungan premisnya sensasional. Apa balasannya bila gempa Jogja tahun 2006 mengungkap keberadaan tengkorak berumur 170.000 tahun plus berdiameter 1,8 kilometer?

Walau gres memulai debut film panjangnya, kematangan Yusron nampak betul dalam rangkaian 15 menit sekuen pembuka bergaya newsreel mengenai liputan media luar dan dalam negeri untuk inovasi tengkorak tersebut. Tersaji rapat, dinamis, nan meyakinkan, imajinasi kita disulut, diajak berandai-andai kalau fenomena itu sungguh terjadi. Penemuan itu menyulut kontroversi. Negara seantero dunia berlomba biar turut terlibat melaksanakan riset, tak ketinggalan pemuka agama mengutarakan tanggapan. Kemudian sentral kisah berpindah ke Ani (Eka Nusa Pertiwi), mahasiswi sekaligus anak magang di Balai Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT) yang jadi sasaran pembunuhan Tim Kamboja, kelompok pembunuh yang konon dibuat pemerintah. 
Beruntung bagi Ani, Yos (Yusron Fuadi), salah satu anggota Tim Kamboja, menyelamatkan nyawanya, membawanya bersembunyi di markas Letnan Jaka (Guh S. Mana). Di sini fase penurunan Tengkorak terjadi. Hendak mengangkat ambiguitas budbahasa di tengah paranoia massa, hubungan Ani-Yos selaku media penyampai pesan gagal tampil meyakinkan. Lubang dalam kecerdikan psikis ialah pokok masalah. Pasca nyaris mati kemudian diajak pergi laki-laki gila yang sudah menghabisi 13 orang, Ani terlihat baik-baik saja, tanpa takut maupun trauma. Anehnya, sejurus kemudian, sesudah tertawa dan bercanda bersama, gres ia mengutarakan kegelisahannya. 

Tanpa jalinan proses memadahi, sulit mendapatkan fakta Ani bersimpati, bahkan secara tersirat menyimpan perasaan lebih pada Yos yang gres dikenal, pula kasar, melontarkan kalimat ofensif macam "raimu kementhu (you're fuckable)" sempurna di depan wajahnya. Di samping itu, Tengkorak menderita inkonsistensi tone. Sulit dipungkiri, pendekatan berbasis dialognya menghibur, khususnya kala Yusron dan Guh S. Mana berceloteh, memamerkan keluwesan lempar-tangkap kalimat. Namun selepas pembukaan serba serius cenderung kelam, momen ini terkesan kurang menyatu sekaligus mengurangi waktu bagi penelusuran mengenai bukit tengkorak.
Konklusinya luar biasa, meski masih direcoki lubang kecerdikan (Semudah itukah meyakinkan CIA dan PBB? Pemerintah mengambil keputusan menurut pemungutan bunyi rakyat padahal sebelumnya selalu mengutamakan belakang layar dan ketertutupan?). Penggambaran Yusron akan suatu insiden (tidak sanggup saya ungkap) amat sesuai dengan iman masyarakat kita. Saya sempat bergetar dan sulit menghapus citra itu dari ingatan. Menyusun teori dari Al Qur'an, sayangnya proses "cocoklogi" yang dilalui kurang melibatkan penonton. Fase ini mestinya jadi sorotan utama, walau pementingan pada sisi humanisme juga bukan kekeliruan.

Aspek teknisnya cukup memuaskan berkat CGI solid dengan kadar secukupnya, menciptakan kecanggungan adegan agresi sanggup sedikit dimaafkan. Satu "pekerjaan rumah" Yusron, yaitu memperbaiki efektivitas pengadeganan. Banyak momen kehilangan momentum akhir bergerak terlalu panjang (menghasilkan durasi mencapai 130 menit), baik obrolan atau montage berhiaskan lagu-lagu yang sejatinya yummy didengar. Tengkorak sendiri bagai film yang diawali gagasan mengenai pangkal permasalahan dan resolusi, tapi kewalahan tatkala menyusun jembatan guna menghubungkan keduanya. Tetap saja, apabila ada kesempatan menonton, jangan hingga anda lewatkan. Setidaknya film ini mencoba berbeda.


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Minggu, 16 Desember 2018

Star Wars: The Last Jedi (2017)

Lebih dari satu kurun lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film bisa menciptakan terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, ketika George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan gres tetapi perasaan dan usaha karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order hingga tabrak tebang lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait daerah titik puncak berlangsung merupakan pola kesejukan fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada agresi selipan. Semua kolam pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri digunakan untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, alasannya alih-alih musik menggelegar, Johnson menentukan meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan ibarat yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi diperlukan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk duduk perkara batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) biar beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang sekarang tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memperlihatkan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi belakang layar untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) hingga Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis obrolan penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik yakni penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa usang berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan bakat komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa memberikan pilu dan keramahan. Makhluk gila yang sanggup menciptakan penonton percaya mereka mempunyai jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan selesai hayat melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi Istimewa alasannya menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, perilaku seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, selesai hayat nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya menentukan mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai tepat sehabis mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"

Jumat, 14 Desember 2018

City Of Ghosts / Victoria & Abdul / Marjorie Prime

Anda masih menganggap enteng bahaya ISIS? Saksikan City of Ghosts, dan renungkan betapa Suriah dibentuk kolam neraka oleh organisasi berkedok agama tersebut. Di cuilan dunia lain, Victoria & Abdul yang mengantar Judi Dench meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actress - Motion Picture Comedy or Musical, justru merayakan kolonialisme berkedok cerita persahabatan beda kasta, ras, dan agama. Sementara Marjorie Prime mengatakan bahwa tidak semua science-fiction memandang artificial intelligence yang makin mendekati insan sebagai suatu ancaman. 

City of Ghosts (2017)
Raqqa Is Being Slaughtered Silently (RBSS). Begitu nama pergerakan citizen journalism yang mewartakan kekejaman ISIS di Raqqa, Suriah, kepada dunia meski nyawa jadi taruhan dan mesti hidup bersembunyi. Nama yang gamblang, menusuk tanpa basa-basi, segamblang footage yang disediakan bagi Matthew Heineman (Cartel Land) guna merangkai dokumenternya. Pembunuhan jadi pertunjukan, kepala insan dipertontonkan, belum dewasa dipaksa "berjihad". City of Ghosts mengerikan bukan saja lantaran pemandangan kejam. Horor sebenarnya hadir di benak kita. Melihat video propaganda kelas Hollywood milik ISIS, timbul pertanyaan, "seberapa berpengaruh mereka?". Dan menyerupai diutarakan satu narasumber, ISIS yakni gagasan, sanggup tumbuh cepat di mana saja, termasuk Indonesia. City of Ghosts menyadarkan akan fakta itu. Di satu titik, beberapa anggota RBSS mengungsi ke Jerman hanya untuk mendapatkan cemoohan lain dari para anti-imigran, memperluas cakupan film menuju penindasan oleh hegemoni kaum yang merasa superior. Mengingat dominan rekaman berasal dari RBSS, Heineman harus menyesuaikan, sulit berkreasi demi totalitas dampak emosi. Pun terbatasnya sumber (ISIS menutup jalan masuk isu Raqqa) serta alasan keamanan cenderung menghadirkan tanya ketimbang jawaban. Seusai menonton, saya menemukan lebih banyak cerita luar biasa di internet. Tapi apakah kegiatan itu bakal terjadi tanpa City of Ghosts? Mungkin tidak. Film ini membuka mata saya. (4/5)

Victoria & Abdul (2017)
Bayangkan film soal masa kolonialisme Hindia Belanda di mana orang Indonesia diminta mempersembahkan penghargaan bagi Wilhelmina, berinisiatif mencium kaki sang Ratu, erat dengannya, menentukan meninggalkan tanah air dan hidup glamor di Kerajaan Belanda. Tidak peduli betapa piawai Stephen Frears (Florence Foster Jenkins, Philomena) merangkai momen jenaka berbentuk olok-olok pada insan haus kuasa, pemujaan Abdul (Ali Fazal) terhadap Ratu Victoria (Judi Dench) yakni pemandangan mengganggu. Victoria pun menyukai Abdul, bahkan menjadikannya Munshi (Guru) sampai seisi Istana kocar-kacir. Victoria & Abdul punya niat baik menuturkan keberhasilan korban rasisme (Abdul seorang muslim India) menggoyang kenyamanan penguasa, tapi naskah yang dangkal gagal menekankan intensi Abdul selain impian memperbaiki hidup, mengesankan beliau hanya social climber biasa. Ada perjuangan memanusiakan Victoria sebagai perempuan bau tanah kesepian sekaligus humanis yang memperjuangkan hak minoritas. Lucu, alasannya yakni beliau yang mengawali nyaris 100 tahun pendudukan Inggris di India. Setidaknya Judi Dench luar biasa melakoni dua sisi Victoria: pimpinan sinis nan intimidatif di depan bawahan, perempuan ramah tapi ringkih yang membutuhkan mitra di depan Abdul. Victoria & Abdul bagai aristokrat yang coba merakyat, mengunjungi perkampungan sambil melambaikan tangan dari dalam kendaraan beroda empat mewah. (2/5)

Marjorie Prime (2017)
Di suatu versi masa depan, orang mati sanggup diwujudkan kembali sebagai kecerdasan buatan berbentuk hologram yang disebut "Prime". Marjorie (Lois Smith), perempuan bau tanah penderita demensia menghabiskan hari mengobrol bersama Prime yang mempunyai wajah mendiang suaminya, Walter (Jon Hamm) kala muda. Memori Walter Prime (demikian ia dipanggil) berasal dari isu yang disediakan Marjorie, pula puterinya, Tess (Geena Davis) dan sang suami, Jon (Tim Robbins). Mereka bicara soal kenangan, baik yang indah, maupun yang menjadi indah lantaran ditutupinya fakta-fakta menyedihkan. Mengadaptasi naskah teater berjudul sama, sutradara sekaligus penulis naskah Michael Almereyda menyusun Marjorie Prime dengan pembicaraan lirih selaku perenungan mengenai memori. Almereyda menebar magis melalui formasi dialog, yang bagi karakternya bagai terapi. Marjorie berusaha mengumpulkan keping-keping ingatan yang tersisa sedangkan Tess ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya. Para Prime mungkin bukan insan utuh, tapi menolong insan menemukan keutuhan. Ditutup pembicaraan menyihir, Marjorie Prime menampilkan kondisi kala Manusia dan A.I. saling mengisi alih-alih mengancam. (4.5/5)

Selasa, 11 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018, Seperti The Hunger Games, Maze Runner menjadi satu dari sedikit seri film adpatasi novel young adult yang berhasil bertahan menyentuh garis tamat ketika kebanyakan rontok bahkan sebelum mendapat sekuel, atau lebih tragis lagi, menyisakan babak epilog (yes, I’m lookin’ at you, Divergent). Sayangnya, menyerupai The Hunger Games pula, petualangan Thomas (Dylan O’Brien) dan kawan-kawan makin kehilangan daya tarik sehabis meninggalkan konsep menarik yang awalnya diusung. Tanpa upaya tokohnya kabur dari labirin sembari menyibak misteri di baliknya, Maze Runner sekedar blockbuster generik yang bakal menguap dari ingatan begitu durasi berakhir.

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018
Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018

Maze Runner: The Death Cure

Tengok sekuen pembukanya kala Thomas, Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan sisa-sisa “Gladers” melangsungkan misi guna menyelamatkan Minho (Ki Hong Lee) dari kurungan WCKD. Walau Wes Ball, yang juga mengarahkan dua film pertama, tahu dasar-dasar mengemas agresi bertempo cepat, adegan tersebut tak ubahnya versi medioker dari train heist milik Fast & Furious. Kencang, berisik, tapi sulit mengundang kesan, apalagi hingga menyedot ketertarikan terhadap usaha para protagonis. Sebut saya terlalu serius menyikapi blockbuster macam ini, tetapi sungguh banyak momen janggal hadir mengisi. Momen janggal yang memaksakan terciptanya rintangan, atau memperpanjang rintangan yang telah ada.

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018
Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018

Jalan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure

Kenapa menentukan mengangkat gerbong terlebih dahulu ketimbang menembaki segelintir pasukan WCKD memakai pesawat dengan persenjataan lengkap yang berhasil dicuri? Itu akan menghemat waktu dan mengurangi resiko, termasuk resiko keliru menentukan gerbong. Namun T.S. Nowlin selaku penulis naskah tentu takkan membiarkan itu, alasannya ialah The Death Cure butuh pemanis konflik untuk menambal alur tipisnya. Pertanyaannya, perlukah mencapai durasi 140 menit? Rasanya tidak. Karena praktisnya, 90 menit awal The Death Cure murni soal menyelamatkan Minho dengan beberapa plot sampingan yang gagal berkembang, dari tarik-ulur romansa Thomas dan Teresa (Kaya Scodelario) hingga ambiguitas moral mengenai eksperimen vaksin yang dilakukan WCKD.

Poin kedua mestinya jadi sorotan utama The Death Cure. Kisahnya tidak pernah berani melangkah ke area abu-abu. WCKD, sebagaimana namanya tetap sekelompok orang kaya kejam nan egois yang mengorbankan nyawa-nyawa remaja demi keselamatan diri sendiri dalam rangka percobaan yang kesudahannya pun tak pernah menemui titik terang. Lain dongeng jikalau percobaan itu berhasil, yang mana bakal memancing dilema serta memprovokasi pikiran penonton. Ketimbang demikian, filmnya cuma tertarik menggedor lewat agresi yang mengandalkan pengulangan pola.

Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018
Ringkasan Cerita Filim Maze Runner: The Death Cure 2018

Semua set-piece agresi selalu menghadirkan skenario berikut: tokoh utama terancam bahaya-tersudut-sekilas kehilangan harapan-mendadak muncul sosok lain, entah dari mana, menyelamatkan segalanya. Elemen kejutannya tak lagi bisa ketika dilakukan berulang kali. Dylan O’Brien dengan kharisma nihil plus akting datar pun tidak berdaya mengatrol intensitas. Justru Will Poulter yang kembali sebagai Gally lebih hidup dan menarik disimak. Kita tahu semenjak The Revenant kemudian Detroit, Poulter telah mengalami pendewasaan dalam performanya.  Dia lebih matang, tahu cara memberi bobot pada sepatah dua patah kata, menambah dinamika di dalamnya.

The Death Cure mempunyai third act bombastis, menampilkan kehancuran masif dibungkus CGI juga tata bunyi mumpuni. Niscaya menjadi suguhan epic andai alur yang mengawalinya tidak tampil bertele-tele penuh permasalahan yang sanggup terselesaikan jauh sebelumnya. Pun penutupnya akan terasa cantik sekaligus mengharukan bagi para penggemar yang telah terikat hatinya pada Thomas dan kawan-kawan. Maze Runner: The Death Cure bukan babak pamungkas memuaskan, tapi melihat kondisi sekarang, keberhasilan franchise blockbuster penyesuaian novel young adult merampungkan perjalanannya ialah prestasi yang patut disyukuri.

Senin, 10 Desember 2018

Downsizing (2017)


Beberapa respon negatif kritikus atau penonton umum untuk film ketujuh Alexander Payne (The Descendants, Sideways) ini dominan bermuara pada kesimpulan bahwa terlampau banyak gagasan coba dirangkum sehingga gagal mengenai sasaran. Mereka ingin filmnya meninggalkan efek signifikan, menggerakkan hati, atau mungkin berpartisipasi terhadap dunia yang lebih baik. Seperti impian besar Paul Safranek (Matt Damon) memberi donasi menyelamatkan lingkungan beserta umat insan di dalamnya. Sayangnya, ia tidak kunjung mencicipi kebahagiaan.

Terhimpit perkara keuangan, Paul mengajak sang istri, Audrey (Kristen Wiig) mengikuti aktivitas Downsizing alias mengecilkan badan demi memperbaiki kehidupan (1 dollar dunia normal sanggup bernilai 1000 kali di dunia mini) sekaligus turut serta menuntaskan perkara overpopulasi. Setidaknya demikian isi pikiran Paul dan para ilmuwan di balik terciptanya teknologi tersebut. Segera, mereka menemukan betapa yang perlu diperbaiki bukan cuma infrastruktur, pula insan itu sendiri.
Orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan saling melukai hati mendominasi Downsizing. Paul terpukul ketika tahu Audrey membatalkan niat mengecilkan badan di detik terakhir. Payne telah menyiratkan itu kepada penonton semenjak adegan wawancara. Paul tampak yakin, sementara dari tatapan matanya pun, Audrey terlihat diselimuti rasa ragu (Wiig menjual keraguan itu dengan baik). Kita menyadari itu, tetapi Paul tidak. Audrey bersalah mendadak membatalkan rencana hanya alasannya yaitu alis dan rambutnya dipangkas habis, namun Paul yang gagal memahami kegundahan istrinya pun sama saja.

Paul layaknya aktivits yang berkoar-koar soal bermacam-macam gosip tapi tak lebih dari sosok egois yang memaksakan kemauannya. Tapi Paul sulit bahagia. Kemudian ia bertemu Dušan Mirković (Christoph Waltz), penggila pesta yang terang-terangan menyatakan mengikuti aktivitas Downsizing demi kepentingan bisnis. Dušan senantiasa senang di tengah kejujuran soal ketidakpeduliannya. Sampai Ngoc Lan Tran (Hong Chau), pencetus asal Vietnam yang dipaksa mengecilkan tubuhnya hadir. Di mata Payne, Ngoc Lan yaitu sosok ideal. Bekerja sebagai petugas kebersihan, Ngoc Lan dibayar dengan kuliner sisa atau obat-obatan yang ia berikan pada mereka yang membutuhkan. Dia melaksanakan hal dengan efek nyata.
Hong Chau luar biasa memerankan Ngoc Lan. Ketika lisan eksentrik Waltz dan wajah kebingungan Damon “sekedar” jadi pondasi komedi, Hong Chau juga mengemban beban mengangkat porsi dramatik. Dia lucu dan berenergi. Memakai Bahasa Inggris beraksen, Hong Chau bicara semaunya, mengatrol daya tarik film tiap kali ia terlibat di layar. Memasuki paruh akhir, sempat ditampilkannya sensitivitas dalam sebuah monolog yang oleh Payne ditangkap memakai close up tanpa putus sehingga kekuatan emosi sang aktris terpampang jelas. Monolog yang semestinya menyegel posisinya selaku peraih nominasi Oscar.

Payne melemparkan banyak gosip yang sekilas disederhanakan konklusinya alasannya yaitu menekankan pada “kita harus berbuat baik”. Tapi bukankah itu akar dari segala kemajuan? Kebaikan dan kebahagiaan. Itulah mengapa ketimbang menggali lebih jauh kerumitan-kerumitan konsep tingginya, Payne mengajak penonton untuk tertawa lewat komedi visual yang diisi keanehan-keanehan, dari kepala dan alis botak Matt Damon sampai tubuh-tubuh kecil telanjang yang diambil kolam makanan. Sang sutradara sekaligus penulis naskah hanya sering terlalu santai, berujung menghasilkan sederet momen yang mestinya sanggup diakhiri beberapa menit lebih cepat.

The Cloverfield Paradox (2018)


Sejak awal penciptaannya, Cloverfield ialah soal memancing ketertarikan penonton lewat misteri, baik terkait dongeng maupun taktik marketing. Plot film pertamanya ditutup rapat hingga hari penayangan. 10 Cloverfield Lane gres mengumumkan judulnya dua bulan sebelum perilisan. The Cloverfield Paradox berusaha melebihi kedua pendahulunya dengan melaksanakan perilisan mendadak. Tatkala publik menanti kemunculan trailer film garapan Julius Onah ini di sela-sela Super Bowl, kejutan muncul. Bukan cuma trailer, Netflix mengumumkan bahwa The Cloverfield Paradox akan tayang hari itu juga seusai Super Bowl. Serba dadakan.

Bicara soal dadakan, alurnya juga bergerak demikian. Dibuka dialog pasangan suami istri, Michael (Roger Davies) dan Ava (Gugu Mbatha-Raw) mengenai penugasan Ava ke stasiun luar angkasa, tiba-tiba kita eksklusif dilempar ke tengah sanksi misi yang berjalan kacau. Dari malam damai di Bumi, seketika melompat ke keriuhan luar angkasa. Nihil gradasi dalam transisi, seolah ada keping yang hilang. Hal tersebut terjadi berulang kali. Entah alasannya ialah Onah lalai mengambil footage penghubung, penulisan naskah Oren Uziel yang melompat kasar, atau ketidakmampuan trio editornya menjahit adegan dengan rapi.
Ada kemungkinan keempat, yaitu perombakan berujung rusaknya pondasi cerita, yang terpaksa dilakukan demi mengakibatkan film ini bab seri Cloverfield. Serupa 10 Cloverfield Lane yang awalnya merupakan kisah lain berjudul The Cellar, film berjudul asli God Particle ini tidak diniati sebagai sekuel Cloverfield. Penyesuaian gres dilakukan di tengah produksi. Premis dasarnya tetap sama, wacana sekelompok astronot yang berusaha membuat sumber energi tanpa batas di stasiun luar angkasa demi mengatasi krisis energi Bumi. Setelah kegagalan berkali-kali, eksperimen kesannya berhasil, hingga mereka mendapati Bumi telah menghilang.

Misteri yang menarik, walau tanpa kaitan dengan Cloverfield sekalipun. Walau alurnya terus bergerak secara berantakan, setumpukan anomali yang terjadi konsisten menyulut rasa penasaran. Bagai tengah menyaksikan The Twilight Zone beserta balutan kisah yang makin abnormal makin menyenangkan, tidak peduli seberapa besar misterinya mengkhianati logika sehat. Belum lagi kemampuan Julius Onah membangun intensitas. Sang sutradara bukan pencerita handal, namun caranya menggambarkan situasi kacau efektif menyedot atensi hingga enggan rasanya memalingkan fokus dari layar. Pun musik buatan Bear McCreary acap kali menggema kolam alarm darurat yang mencekam.
Tapi sulit dipungkiri, koneksi dengan Cloverfield, termasuk beberapa easter eggs yang akan memancing diskusi, bisa menjaga antusiasme terhadap filmnya bertahan, setidaknya tak lenyap seutuhnya, khususnya begitu memasuki paruh selesai yang medioker. Inilah resiko sebuah dongeng dengan setumpuk misteri yang sanggup dijawab melalui satu kesimpulan. Begitu kesimpulan itu terungkap, keanehan-keanehan berikutnya tak lagi berarti. Filmnya pun tinggal menyisakan konflik ala kadarnya soal perjuangan para astronot yang tersisa untuk kembali pulang.

Mungkin kita takkan pernah tahu menyerupai apa versi orisinil God Particle. Bisa saja keputusan mengaitkan dengan Cloverfield menghancurkan potensi narasinya. Bisa pula sebaliknya, koneksi itu menambah bumbu bagi suguhan fiksi ilmiah generik yang akan begitu gampang terlupakan. Paling tidak, film ini jadi punya susukan untuk memasukkan shot penutupnya yang keren. Penonton akan cenderung membicarakan shot tersebut ketimbang fakta bahwa jajaran cast kelas wahid macam Daniel Brühl, Chris O’Dowd, David Oyelowo, hingga Zhang Ziyi disia-siakan.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...