Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2018

Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena ibarat film pertama ketika ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura hingga Nurul, Fahri masih laki-laki mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan sanggup disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini beliau tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin mendapatkan setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri menentukan membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akhir ajal sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap beliau tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan semoga dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri mengakibatkan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya menunjukan Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, duduk kasus usai pasca obrolan singkat dengan sobat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan semoga merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, lantaran melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum ibarat saya, lantaran sasaran pasar utama filmnya yakni para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap perempuan yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit asumsi Meski penempatannya kurang mulus, obrolan wacana Pancasila menawarkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, menciptakan filmnya nampak terlalu ibarat suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia. 

Jumat, 14 Desember 2018

Surat Cinta Untuk Starla The Movie (2017)

Memerankan empat tokoh serupa dalam empat romansa sepanjang 2017, Jefri Nichol mesti berpindah haluan sejenak tahun depan. Sebelumnya, bolehlah kita sekali lagi menikmati Nichol sebagai bad boy yang (diam-diam) berhati emas. Dia memang terlahir untuk abjad demikian. Dan pembiasaan layar lebar lagu buatan Virgoun yang sempat pula diangkat menjadi web series berjudul sama ini terperinci memfasilitasi talenta sang aktor. 

Jefri menjadi Herma Chandra, remaja yang sulit diatur, seniman graffiti jalanan yang kerap diburu polisi, enggan berkuliah, ke mana-mana mengendarai kendaraan beroda empat renta sambil menenteng mesin tik peninggalan mendiang kakeknya. Singkatnya, Herma yakni hipster. Gemar menghabiskan waktu di cafe hipster pula. Tapi beliau juga pecinta alam, mengutuk mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena tokoh dalam film remaja arus utama kita wajib mempunyai kompas budpekerti biar penonton ABG bisa mengambil contoh, bukan?
Pasangannya tak lain Starla (Caitlin Halderman), gadis kaya pemilik coffee shop yang pertunangannya gres saja kandas. Jika Jefri masih sering lemah soal pengucapan dialog, Caitlin lebih dinamis. Meski berparas manis dan berasal dari kalangan atas, ia bukan puteri glamor macam aktris Screenplay lain, sebutlah Michelle Ziudith. Caitlin sebagai Starla merupakan gadis idola manis yang sanggup kita jumpai di kehidupan nyata. Itulah mengapa sosoknya gampang disukai. Diawali kesalahpahaman, Starla justru jatuh cinta pada Herma, pun sebaliknya.

Dipandang lewat segi filmis, Surat Cinta Untuk Starla jelas penuh cacat. Dialog berupa kalimat puitis yang dipaksa bersatu ketimbang pembicaraan natural manusia, flashback yang tak terjahit rapi dengan setting masa kini, hingga twist tak substansial selaku pemenuhan obligasi terhadap ciri Screenplay. Tapi beda ceritanya kalau memandang film ini drama romantika "kental sakarin" dengan tujuan tunggal memancing jeritan penonton muda, tepatnya golongan Sekolah Menengan Atas ke bawah. Di sela-sela romansa, Ramzy dan Ricky Cuaca memberi bumbu komedi tak lucu, sedangkan Teuku Ryzki alias Kiki menegaskan bahwa personil CJR yang bisa berakting hanya Iqbaal.
Walau dangkal, saya urung menentang hiburan menyerupai itu. Surat Cinta Untuk Starla sanggup menciptakan para gadis berteriak tiap Jefri Nichol bicara atau membelai wajah Caitlin Halderman (sebelum alhasil bicara juga). Suatu hari mereka bakal beranjak dewasa, tak lagi menggemari gaya percintaan demikian, kemudian geleng-geleng kepala melihat generasi lebih muda yang tergila-gila. Bukan masalah. Ini yang disebut proses perkembangan. 

Sama halnya proses berkarya Screenplay yang perlahan berkembang. Biarpun duet penulis naskah, Tisa TS dan Sukhdev Singh jalan di tempat, kehadiran Rudi Aryanto (dulu menciptakan judul "legendaris", Psikopat) menggantikan Asep Kusdinar sebagai sutradara sedikit menghasilkan rasa baru. Mementingkan fokus pada kedua tokoh alih-alih pemandangan (yang tak lagi menggunakan setting luar negeri mewah) kala terjadi interaksi, korelasi Herma-Starla terjalin melalui obrolan yang memaksimalkan pesona dua pemain utama. It's more about relationship than luxury. Andai naskahnya tak coba tampil rumit secara berlebihan dalam merangkai twist yang berakhir kolam benang kusut.

Call Me By Your Name / I, Tonya / Lady Bird

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada ekspresi dominan penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, pembiasaan novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat dongeng hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, hingga Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan sesudah menciptakan Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi manis Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap ekspresi dominan panas di perkampungan Italia cuilan Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name ialah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta sampaumur 17 tahun berjulukan Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), laki-laki berusia jauh lebih bau tanah yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun mempunyai kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, badan tegap, dan bunyi berat tepat sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan perempuan fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap agresi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat pribadi performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya sanggup dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku pengaruh perlakuan garang ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami semenjak kecil. Apakah sejatinya LaVona menyayangi sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan ketika kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Nasrani di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan ancaman lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal kontradiksi ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang impian Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang mengakibatkan perilaku keras Marion sangat sanggup dipahami. Sementara para pengajar sekolah Nasrani dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas kolam denah komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan sampaumur tamat secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan aksara yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga datang di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)

Kamis, 13 Desember 2018

Forever Holiday In Bali (2018)

Si laki-laki yakni bintang K-Pop ternama. Si perempuan gadis Bali biasa, terhimpit persoalan ekonomi pula. Mereka bertemu di Pulau Dewata. Diawali pertengkaran, lama-lama cinta keduanya tak tertahan. Terdengar bagai cerita idaman orang-orang yang berharap terlibat dalam pertemuan puteri bagus dengan pangeran tampan berkuda putih. Namun Forever Holiday in Bali memang sengaja bermain di ranah itu, setidaknya ingin ibarat formasi drama Korea yang juga mengusung formula serupa. Apakah salah? Sebaliknya, orang-orang di balik film ini paham betul kiblat yang jadi acuan: cerita dan drama Korea.

Dibanding film Indonesia bergaya Korea lain, Forever Holiday in Bali menang soal autentisitas. Penyusunan adegan mirip drama Korea, karakter Korea pun bicara Bahasa Korea, juga diperankan orang Korea. Tidak main-main, Thunder eks-MBLAQ pun digaet sebagai bintang utama berjulukan Kay. Berkat kehadiran sosok idola sungguhan, unsur fairy tale-nya terpancar nyata. Apalagi Thunder berakting jauh dari kesan kaku. Mungkin sebab tuntutan akting film ini tak begitu berat, setara drama televisi yang kerap ia lakoni. Atau mungkin, Caitlin Halderman selaku lawan mainnya menebar cukup pesona guna menambal segala kekurangan yang ada.
Caitlin yakni Putri (Princess, like in a fairy tale), gadis Bali yang mengalami kesulitan keuangan sehingga mendapatkan usulan sahabatnya, Indra (Reza Aditya) untuk membantu meliput kedatangan Kay yang menciptakan video klip secara belakang layar di Bali. Tapi serahasia apapun, tidak mungkin bandara sepi fans. Hanya ada dua wartawan termasuk Indra. Kemustahilan yang sebaiknya kita terima, mengingat dalam cerita nalar perlu sedikit dikesampingkan. Walau akibatnya, Forever Holiday in Bali tampil kurang relatable, menghalangi dampak emosi. 

Skenario goresan pena Kennt Kim bersama Titien Wattimena bukannya lupa menyulut rasa. Kay diberi kisah personal mengenai murung pasca sang ibu meninggal. Kay pun teringat ucapan ibunya perihal Bali yang mempunyai banyak bidadari. Andai filmnya memberi pengutamaan bahwa Kay menemukan bidadari yang disebut mendiang ibunya dalam diri Putri pernyataan itu sanggup menjadi pondasi emosi luar biasa kuat. Terlebih, mengulangi pencapaian di Sweet 20, Ody C. Harahap mahir mempresentasikan interaksi menyentuh ibu-anak. 
Sayangnya tidak. Forever Holiday in Bali memilih berpijak pada rangkaian alur yang memfasilitasi kejutan kurang esensial di penghujung durasi ketimbang memaparkan drama sederhana tetapi mencengkeram hati. Filmnya urung mencapai tingkat perasaan yang tinggi, tetapi efektif sebagai pemancing senyum. Bukan terbatas senyum geli mendapati humor yang sesekali mengisi perjalanan berkeliling Bali mencari pantai kenangan masa kecil Kay, pula senyum yang berasal dari manisnya interaksi dua tokoh utama.

Khususnya untuk Caitlin Halderman, saya kehabisan kata-kata pujian. Cantik, lucu, berenergi, pintar mengatur ekspresi biar tiap momen menyenangkan disaksikan. Penampilan yang sanggup mewajarkan seorang idola jatuh cinta pada gadis biasa. Asal pintar menentukan film serta berani sesekali mengambil tugas berbeda, suatu hari namanya akan bertengger di jajaran puncak aktris negeri ini. Gaun merah Caitlin, vespa jingga, bentangan alam hijau, Forever Holiday in Bali terlihat cerah nan berwarna, sanggup mengundang keceriaan selama anda tidak anti terhadap romantika kental khayalan di luar nalar ala dunia dongeng. 

Rabu, 12 Desember 2018

Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, lebih banyak didominasi berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian aku tahu, baju bodo (pakaian budbahasa Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta mengakibatkan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (Tak) Direstui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika ialah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan komitmen nikah pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh insan melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke badan Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akhir jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah berguru baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal fundamental menyerupai kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf mewaspadai kejujuran sang istri menciptakan Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan ningrat diinjak-injak. 
Keduanya hingga ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar kalau di satu titik Zulaika membawa-bawa wacana strata. Artinya ia manusia. Andania Suri menunjukkan penampilan remaja yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali menunjukkan verbal yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (Tak) Direstui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akhir lemahnya titik puncak permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk kisah soal keberanian melawan budbahasa yang sanggup berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, mengakibatkan minimnya dinamika serta duduk kasus menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri ukiran mengenai budbahasa yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan kolam jalan pintas menuntaskan masalah. Silariang Cinta yang (Tak) Direstui tidak buruk. Hanya datar nan gampang dilupakan.

Selasa, 11 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018

Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018


Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018
Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018


Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018,
 diadaptasi dari novel buatan Pidi Baiq yang konon terinspirasi dari cerita nyata. Andai percintaan Dilan dan Milea sungguh benar adanya, saya yakin Pidi cuma mengambil garis besar cerita mereka. Sisanya, terlebih obrolan yang ada, pastilah rekayasa. Sebab insan mana yang mengucapkan kalimat ibarat “Kamu cantik, tapi saya belum mencintaimu. Enggak tahu jikalau sore. Tunggu aja” atau “Jangan rindu. Berat. Kau enggak akan kuat. Biar saya saja”. Terdengar menjijikkan? Mungkin. Tapi bukankah kita kerap menganggap kemesraan dan rayuan (sok) puitis itu menjijikkan hingga balasannya kita sendiri melakukannya, menikmatinya kala terjebak asmara?

Dilan 1990

Menonton Dilan 1990 rasanya ibarat menjalani sebuah hubungan cinta. Hal yang awalnya menggelikan kemudian berubah jadi manis nan memabukkan. Milea (Vanesha Prescilla) gres pindah dari Jakarta ke sebuah Sekolah Menengan Atas di Bandung. Seketika banyak siswa terpikat padanya. Milea sendiri mempunyai pacar di Jakarta. Beni (Brandon Salim) namanya. Tapi pikiran Milea justru dikuasai Dilan (Iqbaal Ramadhan), bocah begajulan anggota geng motor dengan julukan “Panglima Tempur” yang di awal pertemuan kerap melontarkan ramalan-ramalan. “Aku ramal kita akan bertemu di kantin”, demikian ucap Dilan. Aneh? Tunggu hingga ia menghadiahkan TTS yang sudah terisi penuh di hari ulang tahun Milea alasannya yaitu tidak mau menciptakan si gadis pusing.


Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018
Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018


Jalan Cerita Dilan 1990

Pokoknya Dilan unik. Begitu juga adiknya. Alasannya, sang bunda (Ira Wibowo) bukan ibu-ibu kaku, yang balasannya membentuk kepribadian anak-anaknya. Saya dan para penonton lain yang telah memasuki usia remaja bisa jadi menganggap Dilan beserta caranya mengasihi absurd ketimbang unik apalagi romantis. Tapi mungkin ketika Sekolah Menengan Atas dulu saya akan memahami romantismenya. Mungkin ketika Sekolah Menengan Atas dulu saya akan menimbulkan Dilan panutan semoga diidolakan gadis-gadis. Mungkin di masa saya Sekolah Menengan Atas dulu, konsensus menawarkan Dilan yaitu pria manis. Alhasil saya pun coba memandang Dilan 1990 sebagai sarana nostalgia. Lagipula setting 90-an miliknya memfasilitasi tujuan itu.

Memakai perspektif tersebut, filmnya lebih bisa dinikmati, bisa melemparkan saya kembali menuju manis dan pahit romantika masa remaja yang diisi kecemburuan, rayuan, kebahagiaan kala sang pujaan pertama kali bersedia membonceng motor, hingga usaha memacu adrenalin untuk merebut hati kekasih orang (ups!). Penyutradaraan duet Fajar Bustomi (Surat Kecil untuk Tuhan, Jagoan Instan) dan Pidi Baiq belum total dalam urusan merangkai momen asmara baik yang menggemaskan maupun romantis, tapi iringan nomor manis Dulu Kita Masih Sekolah Menengan Atas selalu siap membantu menambal kekurangan terkait rasa dalam pengadeganan.

Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018
Ringkasan Cerita Filim Dilan 1990 2018

Pengarahan kedua sutradaranya memang kerap menghalangi suatu adegan memunculkan efek yang diinginkan. Contohnya ketika komedinya sering berujung cringey. Ada peranan pemain yang kurang sempurna penyampaiannya, tapi lebih banyak didominasi didorong kecanggungan adegan. Seolah Fajar dan Pidi resah harus mengemasnya bagaimana. Kebingungan serupa dialami Iqbaal. Sewaktu bermain santai, ia menyenangkan disimak, hidup dan dinamis sebagaimana ditunjukkannya lewat Ada Cinta di SMA. Kondisinya berbalik ketika dipaksa melontarkan kalimat “khas Dilan”. Iqbaal kaku tatkala harus berbahasa baku. Setidaknya satu senyuman cukup mendorong penggemarnya berteriak histeris. Sementara Vanesha Prescilla berhasil menciptakan Milea simpel disukai penonton, walau ibarat pasangannya, ia lebih menikmati ketika menghadapi suasana santai.

Alur Dilan 1990 bergerak episodik layaknya memori, pula berlangsung tipis minim konflik. Kehidupan Dilan selaku “Panglima Tempur” di geng motornya, konflik keluarga, kehidupan sekolah dan lain sebagainya memang masih bisa digali demi mengakali tipisnya plot, tapi bukan duduk kasus besar. Tujuan utama Dilan 1990 yaitu mempresentasikan percintaan remaja SMA, dan bukankah pada umumnya permasalahan di jenjang usia serta pendidikan tersebut memang tidak jauh-jauh dari situ?

Minggu, 09 Desember 2018

London Love Story 3 (2018)


London Love Story 3 terperinci ditujukan bagi para penggemar saja. Penonton di luar lingkup tersebut, menyerupai saya, meski setia mengikuti dari film pertama, akan kesulitan mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Bahkan sedikit flashback tak begitu membantu. Kenapa dulu Caramel (Michelle Ziudith) meninggalkan Dave (Dimas Anggara)? Apa Dave sebelumnya pernah mengalami kecelakaan? Semua kurang jelas di ingatan. Satu yang film ini terus coba ingatkan, bahwa Caramel pernah berdoa supaya Tuhan mengambil nyawanya satu hari sebelum Dave. Doa ini mengerikan bagi Dave, alasannya bila kelak Caramel meninggal, ia tahu keesokan harinya akan menyusul.

Doa tersebut hampir jadi kenyataan, dikala keduanya mengalami kecelakaan beberapa ahad sebelum melangsungkan janji nikah di Bali. Kecelakaan yang menciptakan Caramel tidak bisa menggerakkan kakinya, dan berdasarkan Dokter Rio (Derby Romero), ada kemungkinan ia lumpuh total. Identitas Dokter Rio sendiri ialah twist. Kejutan yang eksekusinya penuh lubang budi sekaligus tanpa signifikansi kecuali sebagai pemenuhan obligasi. Karena ini termasuk salah satu ciri khas Screenplay.
Saya membayangkan duo penulis naskahnya, Tisa TS dan Sukhdev Singh menyimpan template berisi checklist mengenai apa saja yang wajib muncul dalam film Screenplay. Twist? Cek. Kecelakaan atau penyakit? Cek. Jalan-jalan dengan kendaraan beroda empat mewah? Cek. Dialog puitis? Cek. Khusus soal dialog, kuantitasnya sedikit dikurangi, meski obrolan berkepanjangan tetap setia mengisi. Begitu panjang dan berulang, satu pokok permasalahan bisa dibahas dua kali, di mana sekali pembicaraan bisa berlangsung 5 menit.

Memasuki film ketiga (plus penampilan di produksi Screenplay lain), Michelle Ziudith makin cakap menjual momen bertabur kalimat “puitis”. Dia tersipu, menangis, tertawa dengan alamiah, seolah kata-kata gombal yang Dave lontarkan merupakan hal yang normal keluar dari verbal insan pada umumnya. Untuk Dimas Anggara, nyatanya ia cukup menarik disimak ketika tak dituntut bermanis ria lewat puisi. Saat Dave berpura-pura hendak menghajar Rio misalnya. Momen ringan namun hidup menyerupai itu yang sejatinya Screenplay butuhkan biar film-filmnya bernyawa.
Poin plus layak diberikan terhadap kemauan Tisa TS dan Sukhdev Singh bergerak ke ranah lebih kelam. Konflik London Love Story 3 bukan lagi ihwal cinta segitiga. Gejolak psikis Caramel kala bergulat dengan ketakutan serta shock tentu lebih rumit daripada kebingungan mengenai menentukan kekasih. Kondisi itu membuatnya menolak percaya pada keajaiban. Sudah niscaya itu sementara. Kita tahu bahwa sehabis proses penuh simplifikasi, Caramel bakal mempercayai keajaiban lagi sebagaimana para penulisnya mempercayakan penyelesaian persoalan pada keajaiban. Paling tidak ada perjuangan merangkai adegan romantis terkait keajaiban tersebut.

Seperti trailer-nya telah paparkan, Caramel akan meminta Dave mengakhiri relasi mereka. Alasannya dua: Pertama, Caramel tidak tahan melihat sang cinta sejati harus mengurusnya bagai perawat. Kedua, Caramel merasa Dave memberinya impian palsu dengan meyakinkan bila ia akan segera sembuh. Andai pemfokusan diberikan kepada alasan kedua, tujuan menyusun konflik yang lebih arif balig cukup akal bakal terpenuhi. Tapi London Love Story 3 memang khusus untuk para penggemar yang secara umum dikuasai belum memasuki usia dewasa.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...