Tampilkan postingan dengan label Alim Sudio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alim Sudio. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2018

Chrisye (2017)

Menengok kehidupan sumber inspirasinya, Chrisye bisa terjatuh dalam jurang kesalahan fundamental film biografi, yakni ambisi. Perjuangan mengejar impian, warna-warni industri musik, romantika, sampai pergumulan batin terkait religiusitas, semua mengiringi perjalanan penyanyi legendaris berjulukan orisinil Chrismansyah Rahadi ini. Untungnya, menurut ide serta supervisi istri Chrisye, Damayanti Noor, skenario buatan Alim Sudio berilmu memilah poin mana saja yang perlu ditampilkan, mengaitkannya, menghasilkan kisah utuh yang dihubungkan benang merah berupa "spiritualitas".

Dari sini, penonton mencar ilmu bahwa setiap langkah Chrisye (Vino G. Bastian) dituntun oleh keyakinan dari hati. Dia yakin musik merupakan jalan hidup meski harus menentang sang ayah (Ray Sahetapy), pula bahwa Damayanti (Velove Vexia) ialah perempuan terbaik baginya walau dihadapkan perbedaan agama. Bahkan alasan ayahnya memberi restu bermusik didorong mimpi ditegur sosok berpakaian putih. Ditambah beberapa pergolakan batin tokoh pula pemilihan proses rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata sebagai puncak, mengambarkan filmnya bertujuan memposisikan hubungan insan dan Tuhan selaku pondasi seorang Chrisye. 
Biarpun tidak dalam bentuk konvensional, Chrisye layak disebut film religi, setidaknya kental tekstur spiritual. Film religi yang enggan berceramah, tidak perlu setumpuk istilah keagamaan, semata melukiskan kemelut ruang batin yang menjadikan musik alat komunikasi dengan Sang Pencipta. Itulah mengapa sisi personal Chrisye, termasuk hubungan dengan Damayanti lebih diutamakan, tanpa melupakan sisi karir musiknya. Melalui naskahnya, Alim Sudio bisa mengesankan betapa kehidupan langsung dan karir Chrisye saling bertautan, tidak bisa dipisahkan, berkorelasi satu sama lain sehingga membentuk Chrisye secara utuh. 

Keputusan tersebut tetap menjadikan pengaruh negatif tatkala presentasi perjalanan karir Chrisye tersaji serba mendadak. Tiba-tiba dia telah dikenal publik, tiba-tiba pula namanya melejit, dipandang sebagai sosok legenda musik tanah air. Pun bagi orang yang awam akan kondisi industri musik Indonesia masa itu, kesulitan keuangan Chrisye meskipun albumnya cukup meroket di pasaran akan menjadikan tanda tanya. Namun itu harga yang harus, juga layak dibayar demi menjaga fokus. 
Dalam penggarapannya, Rizal Mantovani paham betul kalau sudah dibekali kisah positif sekaligus gugusan lagu luar biasa. Penggemar Chrisye bakal gampang meneteskan air mata mendengar lantunan klasik sang idola, atau kala kulminasi kekuatan cinta protagonis sewaktu Chrisye meminta Damayanti menemaninya merekam lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Rizal enggan berlebihan mendramatisasi, membiarkan balutan rasa kisah aslinya bekerja. Kerap menciptakan video klip, Rizal pun piawai mereka ulang banyak sekali momen ikonik, sebutlah rekaman aktivitas Aneka Ria Safari dan pemotretan sampul album, keduanya untuk nomor Aku Cinta Dia. 

Jajaran pemainnya memikat. Vino membayar lunas perbedaan warna suaranya dengan kebolehan mengolah emosi serta ketepatan memainkan gestur kaku Chrisye, yang uniknya (dibantu tata kostum dan rias), semakin seolah-olah seiring pertambahan usia. Soal permainan emosi, Velove Vexia mencapai tingkat serupa khususnya pada momen keputusan Chrisye memeluk Islam. Performa itu sayangnya diganggu kelamahan tata rias, dikala fase paruh baya Damayanti tak mempunyai perbedaan dengan sosoknya di usia muda. Demikian pula rambut palsu menggelikan yang dikenakan Andi Arsyil Rahman sebagai Erwin Gutawa. Sementara Roby Tremonti memberi penampilan singkat berkesan nan otentik sebagai Jay Subiyakto.

Sabtu, 15 Desember 2018

Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena ibarat film pertama ketika ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura hingga Nurul, Fahri masih laki-laki mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan sanggup disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini beliau tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin mendapatkan setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri menentukan membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akhir ajal sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap beliau tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan semoga dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri mengakibatkan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya menunjukan Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, duduk kasus usai pasca obrolan singkat dengan sobat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan semoga merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, lantaran melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum ibarat saya, lantaran sasaran pasar utama filmnya yakni para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap perempuan yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit asumsi Meski penempatannya kurang mulus, obrolan wacana Pancasila menawarkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, menciptakan filmnya nampak terlalu ibarat suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia. 

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...