Tampilkan postingan dengan label Lumayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lumayan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2018

The Children Of Genghis (2017)

Selain kualitas, tiap perwakilan kagetori "Best Foreign Language Film" pada perhelatan Oscar semestinya bisa menjadi wajah industri perfilman, kultural, dan/atau sosial-politik suatu negara. The Children of Genghis mungkin bukan suguhan luar biasa, pula tanpa dobrakan pencapaian artistik. Namun selama menyaksikannya, kita dipaparkan pengetahuan, bahkan diajak mengagumi seluk beluk budaya, pemandangan, hingga suasana tenang nan menenangkan milik Mongolia. Inilah representasi yang akan membuat warganya besar hati akan khazanah negeri sendiri, sembari membuai publik luar dengan eksplorasi tanah yang aneh bagi mereka. 

Ditulis sekaligus disutradarai oleh Zolbayar Dorj, kisahnya menetap dalam contoh dasar seputar anak yang bersedia melawan perintah orang renta demi mengejar mimpi. Sang anak, Byamba (Dorjsambuu Dambii) kesal ketika hanya sang kakak, Uuganaa (Dorj Dambii) yang dipilih oleh instruktur kuda ternama, Bold (Batnairamdal Tsewegjaw) untuk berlomba di balapan kuda tahunan. Saat ayahnya (Batmend Baast) yang berasal dari keluarga instruktur hebat menolak kembali melatih kuda balap, Byamba pun nekat melaksanakan latihan sendiri di sela-sela rutinitas menggembala binatang ternak. 
Penanganan Dorj terhadap tema familiar tersebut memang tak keluar pakem, mengikuti rutinitas proses protagonis yang diawali sakit hati, berlatih diam-diam, menunjukkan kemampuan, diketahui orang tua, pertengkaran, kemudian ditutup perdamaian dua sisi. Begitu pula kala alasan saingan sang ayah lagi-lagi masih terkait stress berat berujung penyesalan tanggapan kejadian masa lalu. Pun dalam pembangunan intensitas, Dorj mengandalkan senjata klise berupa gerak lambat ditambah musik menggelora biar membuat kesan dramatis. Singkatnya, estetika sinematis The Children of Genghis nihil modifikasi. 
Namun, menyerupai telah disinggung, kekuatan terbesar filmnya ialah representasi kultural. Balap kuda selaku satu dari tiga acara kultural turun temurun bersama memanah dan gulat diperkenalkan. Lebih lanjut, giliran visualnya berbicara. Sinemtagorafi Angarag Davaasuren piawai menangkap bentangan tanah lapang hijau Mongolia yang dikelilingi pegunungan, menyajikan kesegaran yang tidak saja memikat mata, pula menenangkan. Damai. Sementara busana kawasan hingga tata artistik pembungkus setting beserta properti menguatkan kesan tradisional sembari melukiskan bentuk budaya menyerupai apa yang sedang kita saksikan, sebutlah ketika ibunda Byamba (Ankhnyam Ragchaa) berdoa di depan potret Genghis Khan (rute balap kuda didasari jalur yang diprakarsai sang tiran pada 1224).

Menariknya, di tengah kentalnya aspek kultural, The Children of Genghis menolak bersikap kolot. Kedatangan petugas UNICEF, Sarah (Brittany Belt) dalam rangka membagikan alat pengaman untuk akseptor balapan meski menerima saingan sebab dianggap tak sesuai watak jadi media penyampaian pesan. Bahwa menjaga tradisi itu penting, tapi sentuhan modernisasi selama mengandung niat baik juga sepantasnya diterima. Perspektif Zolbayar Dorj inilah alasan The Children of Genghis tampil bermakna walau tanpa kemasan spesial. Jika itu pun gagal memikat anda, setidaknya tingkah lucu Nanzaa, si bocah 4 tahun putera bungsu keluarga Dambii bakal memancing senyum. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Selasa, 18 Desember 2018

The Seen And Unseen (2017)

Mengingat tingginya kepercayaan masyarakat Indonesia akan hal mistis, sudah sepantasnya sineas kita mengeksplorasi fenomena tersebut lebih jauh, bukan sekedar memposisikannya sebagai sumber kengerian. Setelah tahun kemudian Sunya dengan klenik kejawen tampil mewarnai, giliran The Seen and Unseen buatan Kamila Andini yang beberapa waktu kemudian menyabet penghargaan di Tokyo FILMeX International Film Festival dan Asia Pacific Screen Awards mengolah gagasan Sekala-Niskala asal Bali. Pasca realisme di film panjang (The Mirror Never Lies) dan pendek (Sendiri Diana Sendiri, Memoria), Kamila menjamah ranah surealisme, bermain simbol, mengaplikasikan tari, sebagaimana kerap dilakukan sang ayah, Garin Nugroho.

Secara garis besar, Sekala-Niskala merupakan konsep di mana hal faktual nan terlihat (Sekala) eksis berdampingan dengan hal mistik tak terlihat (Niskala). Memadukan itu dengan kepercayaan bahwa anak kembar saling menjalin ikatan batin, The Seen and Unseen bicara ihwal luapan rindu terhadap sosok terkasih. Ketika Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena) terbaring koma di rumah sakit akhir tumor, Tantri (Thaly Titi Kasih), mulai karam dalam imaji kehadiran sang saudara kembar, makan berdua, menari bersama. Pun kala malam bermandinkan sinar bulan tiba, Tantri bersinggungan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata di sekitarnya. 
Sisi mistis dalam visi Kamila bukan bagian dunia lain yang jahat maupun suram, meski ketaknormalan misterius masih memancing ngeri ibarat tampak di beberapa kemunculan rombongan hantu anak kecil yang berguling-guling kolam benih tertiup angin. Daripada teror, Kamila lebih tertarik merangkai keajaiban. Sinematografi Anggi Frisca mendukung tujuan itu melalui malam yang jelas berkat sinar purnama, sehingga tekstur awan atau sawah dengan padi yang telah meninggi kurang jelas tetap tampak. Itulah panggung bagi Tantri menari indah layaknya memanjatkan doa kepada semesta sambil mengenakan kostum unik (ayam dan monyet) buatan Retno Ratih Damayanti yang memanfaatkan tumbuhan seadanya. 
Selalu menyenangkan mengamati performa dua pemain drama ciliknya, terlebih pada tarian di rumah sakit, dikala bukan saja gerak bertenaga (saling lompat antar kasur yaitu pemandangan intens), ekspresi wajah pun total mereka tunjukkan. Berkatnya, dinamika emosi hingga perjalanan Tantri menuju penerimaan akan realita dapat tersampaikan utuh walau tanpa tuturan verbal. Sementara di ungkapan tersurat, Ayu Laksmi sebagai ibu si kembar menuangkan kehangatan yang mampu mendekap lembut hati penonton. 

Cenderung berupa visualisasi gagasan ketimbang rangkaian dongeng linier, The Seen and Unseen banyak tersusun atas simbol-simbol yang sayangnya terlalu familiar (telur dan padi melambangkan aspek kehidupan), pun penyajiannya repetitif. Pengulangan selaku penegasan itu perlu, tapi berujung melelahkan sewaktu momen-momen dengan metafora serta nuansa setipe ditampilkan terlampau sering. Padahal Kamila Andini telah berhasil mengemas tempo lambat yang efektif, di mana gerak perlahan alur yaitu wujud kesabaran serta sensitivitas alih-alih keputusan pretensius. Layaknya anak ayam yang gres beberapa dikala menetas dari telurnya, petualangan Kamila Andini mengarungi wilayah mistis ini belum sepenuhnya matang, tapi cukup mencuatkan harap sekaligus antisipasi tinggi untuk eksperimen-eksperimen sang sutradara di masa depan. 

Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Senin, 17 Desember 2018

Chrisye (2017)

Menengok kehidupan sumber inspirasinya, Chrisye bisa terjatuh dalam jurang kesalahan fundamental film biografi, yakni ambisi. Perjuangan mengejar impian, warna-warni industri musik, romantika, sampai pergumulan batin terkait religiusitas, semua mengiringi perjalanan penyanyi legendaris berjulukan orisinil Chrismansyah Rahadi ini. Untungnya, menurut ide serta supervisi istri Chrisye, Damayanti Noor, skenario buatan Alim Sudio berilmu memilah poin mana saja yang perlu ditampilkan, mengaitkannya, menghasilkan kisah utuh yang dihubungkan benang merah berupa "spiritualitas".

Dari sini, penonton mencar ilmu bahwa setiap langkah Chrisye (Vino G. Bastian) dituntun oleh keyakinan dari hati. Dia yakin musik merupakan jalan hidup meski harus menentang sang ayah (Ray Sahetapy), pula bahwa Damayanti (Velove Vexia) ialah perempuan terbaik baginya walau dihadapkan perbedaan agama. Bahkan alasan ayahnya memberi restu bermusik didorong mimpi ditegur sosok berpakaian putih. Ditambah beberapa pergolakan batin tokoh pula pemilihan proses rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata sebagai puncak, mengambarkan filmnya bertujuan memposisikan hubungan insan dan Tuhan selaku pondasi seorang Chrisye. 
Biarpun tidak dalam bentuk konvensional, Chrisye layak disebut film religi, setidaknya kental tekstur spiritual. Film religi yang enggan berceramah, tidak perlu setumpuk istilah keagamaan, semata melukiskan kemelut ruang batin yang menjadikan musik alat komunikasi dengan Sang Pencipta. Itulah mengapa sisi personal Chrisye, termasuk hubungan dengan Damayanti lebih diutamakan, tanpa melupakan sisi karir musiknya. Melalui naskahnya, Alim Sudio bisa mengesankan betapa kehidupan langsung dan karir Chrisye saling bertautan, tidak bisa dipisahkan, berkorelasi satu sama lain sehingga membentuk Chrisye secara utuh. 

Keputusan tersebut tetap menjadikan pengaruh negatif tatkala presentasi perjalanan karir Chrisye tersaji serba mendadak. Tiba-tiba dia telah dikenal publik, tiba-tiba pula namanya melejit, dipandang sebagai sosok legenda musik tanah air. Pun bagi orang yang awam akan kondisi industri musik Indonesia masa itu, kesulitan keuangan Chrisye meskipun albumnya cukup meroket di pasaran akan menjadikan tanda tanya. Namun itu harga yang harus, juga layak dibayar demi menjaga fokus. 
Dalam penggarapannya, Rizal Mantovani paham betul kalau sudah dibekali kisah positif sekaligus gugusan lagu luar biasa. Penggemar Chrisye bakal gampang meneteskan air mata mendengar lantunan klasik sang idola, atau kala kulminasi kekuatan cinta protagonis sewaktu Chrisye meminta Damayanti menemaninya merekam lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Rizal enggan berlebihan mendramatisasi, membiarkan balutan rasa kisah aslinya bekerja. Kerap menciptakan video klip, Rizal pun piawai mereka ulang banyak sekali momen ikonik, sebutlah rekaman aktivitas Aneka Ria Safari dan pemotretan sampul album, keduanya untuk nomor Aku Cinta Dia. 

Jajaran pemainnya memikat. Vino membayar lunas perbedaan warna suaranya dengan kebolehan mengolah emosi serta ketepatan memainkan gestur kaku Chrisye, yang uniknya (dibantu tata kostum dan rias), semakin seolah-olah seiring pertambahan usia. Soal permainan emosi, Velove Vexia mencapai tingkat serupa khususnya pada momen keputusan Chrisye memeluk Islam. Performa itu sayangnya diganggu kelamahan tata rias, dikala fase paruh baya Damayanti tak mempunyai perbedaan dengan sosoknya di usia muda. Demikian pula rambut palsu menggelikan yang dikenakan Andi Arsyil Rahman sebagai Erwin Gutawa. Sementara Roby Tremonti memberi penampilan singkat berkesan nan otentik sebagai Jay Subiyakto.

Minggu, 16 Desember 2018

Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats

Kumpulan review pendek kali ini dibuka oleh Ingrid Goes West, satir mengenai kultur media umum khususnya Instagram yang mestinya memantapkan posisi Aubrey Plaza di jajaran aktris kelas satu Hollywood. Pada Festival Film Sundance 2017, David Branson Smith dan Matt Spicer meraih Waldo Salt Screenwriting Award untuk naskah terbaik. Berikutnya Mother!, horor psikologis karya Darren Aronofsky yang membelah penonton menjadi dua kubu sekaligus menyulut kontroversi terkait alegori mengenai Alkitab. Terakhir ada Beach Rats, film bertema LGBT yang juga berjaya di Sundance, membawa Eliza Hittman meraih sutradara terbaik.

Ingrid Goes West (2017)
Budaya media umum bukan saja telah menjamur, juga beracun. Nampak pada tingkah Ingrid (Aubrey Plaza) yang menguntit selebgram asal L.A., Taylor (Elizabeth Olsen), meniru caranya berpakaian, makanan favorit, hingga alat mandi. Ingrid serupa sampaumur kini yang rela menggandakan jati diri (baik literal maupun metaforikal) demi status dunia maya walau tanpa kehidupan dunia nyata. Arah alur gampang ditebak, tapi kekuatan utama film ini yaitu observasi soal ragam sikap destruktif pengguna media sosial, dari perjuangan mendaki kasta, stalking, hingga obsesi pendorong kesediaan meniru sang idola. Topik ini spesifik tapi relevan bagi tiap situasi juga era, bahkan sebelum Instagram merajalela. Selain setia bergaya canggung, Plaza menunjukan kapasitas memainkan nada serius, ahli dalam memaparkan fluktuasi emosi. Berkatnya, pengamatan kita menghasilkan efek beragam, sesekali menaruh kasihan, kadang menertawakan, menikmati kala Ingrid kena batunya. Olsen sebaliknya, benderang, layaknya sosok ideal yang menciptakan orang ingin berteman bahkan menjadi dirinya. Titik rendah filmnya terletak di konklusi kurang tegas, ingin melanjutkan satir ke tataran lebih jauh atau mengusung pesan positif yang justru berujung justifikasi pada pihak yang disindir. (3.5/5)

Mother! (2017)
Melalui Mother!, Aronofosky tidak tertarik menyadarkan apalagi menginspirasi. Sepertinya fase itu sudah usang berlalu, menyisakan amarah yang menanti tercurah. Aronofosky murka pada banyak pihak, dari sikap semau sendiri dan ketidakpedulian insan yang melukai Mother Nature (Jennifer Lawrence), pula representasi Tuhan dalam sosok Him (Javier Bardem) yang menurutnya tergila-gila akan puja-puji. Guna menuturkan interpretasi lepas dari Kitab Kejadian ini, pemakaian narasi konvensional memang sulit dilakukan, sehingga gaya metaforikal bersifat perlu, bukan pretensius. Meski bertebaran simbol, alur yang tetap mengikuti kaidah tiga babak (awal-tengah-akhir) memudahkan penonton menyusun keping teka-teki. Jangan khawatir daya tariknya hilang begitu tema besar terpecahkan, alasannya Mother! masih menyimpan setumpuk absurditas selaku perhiasan detail cerita, dengan titik puncak gila sebagai penegas bahwa kemampuan Aronofsky mengganggu batin penonton, yang tampak semenjak awal karirnya, belum luntur. Aronofsky sukses menjahit rapi hikayat Bibel versinya ke dalam konflik suami-istri yang masing-masing sanggup bangun sendiri. (4.5/5)

Beach Rats (2017)
Pencarian jati diri, konformitas, hubungan keluarga yang berjarak. Eliza Hittman menerapkan lika-liku dunia sampaumur itu dalam lingkup LGBT. Frankie (Harris Dickinson) rutin menghabiskan malam di depan komputer menelusuri gay chat room untuk mencari laki-laki lebih tua. Meski demikian, beliau enggan mengaku gay, punya pacar perempuan walau sulit terangsang kala berafiliasi seks, bersahabat, menghisap ganja bersama tiga mitra yang menganggap hubungan sesama jenis menggelikan pula menjijikkan. Bahwa sampaumur bersedia menyangkal identitas, menyesuaikan dengan "norma" semoga diakui, jadi sorotan utama Hittman. Dickinson memberi ketenangan namun dinamis dalam bertukar kalimat. Performa ini selaras dengan "topeng" Frankie yang menyimpan problem sembari ingin tampak "normal" di lingkungan sosial. Hélène Louvart menggunakan kamera 16mm, merangkai kelembutan malam minim cahaya, menghasilkan gambar-gambar yang menyokong perasaan karakternya. Sementara Hittman membungkus adegan seks melalui kelembutan serupa, meniadakan kesan vulgar murahan. Solid, tapi Beach Rats takkan bertahan usang di ingatan akhir ketiadaan pembeda dibanding drama indie low budget kebanyakan (visual stylish, slow burning). Terlebih penokohannya kurang mendalam, sebatas melayani tugas masing-masing ("the distant mother", "the girlfriend", "the asshole homophobic friends") tanpa kepribadian menarik. (3.5/5)

5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang hebat mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita absurd luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut yakni pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi hubungan Yanto-Dewi lah pencetus alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sahabat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan dampak bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku komplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat bintang film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum dikala secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai adu penuh gaya, menyerupai tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

Ferdinand (2017)

Karakter Ferdinand dalam buku dongeng anak The Story of Ferdinand adalah banteng cinta tenang berhati lembut. Daripada bertarung melawan matador, ia menentukan menikmati aroma bunga. Di realita yang diselimuti prasangka dan amarah, kepribadian macam itu justru kerap dibenci. Jika dalam buku serta filmnya Ferdinand diasingkan oleh banteng lain, maka dunia kasatmata menjadi saksi buku buatan Munro Leaf ini sempat dihentikan beredar. Terbit kala iklim politik tengah tak kondusif, sembilan bulan jelang Perang Sipil Spanyol melanda dan Hitler sedang berkuasa, bermacam-macam tuduhan dari fasisme, komunisme, hingga sosialisme pun dialamatkan.

Sindiran terhadap Nazi memang tampak pada penokohan tiga kuda: Hans, Klaus, dan Greta yang mempunyai nama sekaligus aksen Jerman, menganggap spesies mereka paling unggul. Tapi intinya, Ferdinand (baik versi buku maupun film) murni soal perdamaian, menjadi diri sendiri, juga bersikap baik tanpa pandang bulu. Barisan pesan yang sanggup diajarkan bagi anak di sela-sela gelak tawa mereka melihat Ferdinand (John Cena) terjebak dalam toko barang pecah belah, atau Maquina si banteng dengan gerak robotik dan bunyi kedipan mata yang terdengar kolam besi beradu (bisa ditebak namanya berasal dari "machina"). Untuk Maquina, tawa aku jauh lebih kencang ketimbang para bocah.
Ferdinand kecil yang kabur dari peternakan banteng demi menghindari hidup penuh kekerasan pasca ayahnya tewas di arena pertarungan, tumbuh besar dalam harmoni bersama Nina (Lily Day) dan ayahnya, dikelilingi bunga-bunga yang jadi benda favorit Ferdinand. Melalui montage singkat kita menyaksikan persahabatan berlandaskan cinta antar-spesies terjalin, walau bagaimana Nina mengetahui nama Ferdinand tak pernah terjawab. Tapi filmnya bergerak cepat, segera mengembalikan Ferdinand ke peternakan akhir suatu kecelakaan berujung kesalahpahaman, urung menyisakan waktu bagi kita memikirkan kejanggalan tersebut.

Meski waktu berlalu, namun kondisi peternakan tetap sama. Valiente (Bobby Cannavale) masih memusuhi, mencela keengganan Ferdinand bertarung, sementara banteng-banteng lain pun bertahan mengusung mimpi meraih kejayaan sebagai lawan tanding matador. Satu-satunya perubahan ialah bertambahnya jumlah binatang yang berjasa meramaikan suasana. Lupe si kambing betina mencuri perhatian berkat suara Kate McKinnon yang tepat mewakili abnormalitas tokohnya, sedangkan trio landak, Una, Dos, Cuatro terampil mencuri benda-benda di sana. Jangan tanyakan keberadaan Tres. Mereka sudah memperingatkan kita.
Dengan huruf sekaya itu, sutradara Carlos Saldanha punya cukup modal merangkai kemeriahan kreatif. Ambil pola adegan dance battle yang bukan cuma perihal kekonyolan tingkah hewan, tapi pemanfaatan ciri masing-masing. Trio kuda dengan gaya elegan, Angus (David Tennant) dan sentuhan Skotlandia miliknya, hingga Maquina yang kembali mengocok perut melalui gerak robotik, membabat habis lagu Watch Me-nya Nick Jonas, memancing gadis kecil yang duduk di sebelah aku ikut menari penuh semangat. Sungguh pemandangan menyenangkan.

Ferdinand memang urung menyoroti ambiguitas sopan santun terkait laga banteng di Spanyol, menentukan pendekatan bersenang-senang menyikapi aspek kulturalnya, menyerupai dipertontonkan pada suatu adegan yang memparodikan parade Running of the Bulls. Tapi bukan masalah. Tidak semua animasi wajib menyusuri jalur kompleks sebagaimana Pixar semoga menjadi bagus. Terlebih saat pelajaran berharga perihal kasih sayang sanggup dipetik oleh penonton anak, sementara kita, orang dewasa, dibentuk merenungkan "siapa monster sesungguhnya?" begitu titik puncak bergulir.

Sabtu, 15 Desember 2018

Jumanji: Welcome To The Jungle (2017)

Banyak film berbasis video game menutup mata akan gameplay sumber materinya sehingga gagal menghasilkan pengalaman yang sama. Sebagai pembiasaan aktivitas menyenangkan, mereka bersikap terlalu serius. Seperti kita tahu, Jumanji: Welcome to the Jungle adalah sekuel Jumanji (1995) yang diangkat dari buku anak buatan Chris Van Allsburg. Tapi jikalau timbul pertanyaan "film apa yang menjadikan kesan serupa bermain video game?", inilah jawabannya. Gamers bakal tertawa sambil mengangguk paham mendapati bermacam-macam referensinya, penonton umum pun takkan terasing dan tersesat, sementara keempat tokoh utamanya tersesat di suatu dunia asing. 

Dunia itu berada dalam video game. Ya, Jumanji yang 22 tahun kemudian berbentuk papan permainan sekarang ialah Nintendo 90-an. Jangan tanya bagaimana. Anggap saja keajaiban. Keajaiban serupa turut mengubah Spencer, Bethany, Fridge, dan Martha, dari kuartet siswa Sekolah Menengan Atas bermasalah menjadi tokoh video game. Ini membahagiakan bagi Spencer, yang mempunyai otot besar sebagai Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) atau Martha sebagai Ruby Roundhouse (Karen Gillan) yang atletis pula ahli langgar sambil menari. Sebaliknya, Fridge dibentuk kesal akhir perawakan tinggi tegapnya mengkerut ketika menempati tubuh Moose Finbar (Kevin Hart).
Setidaknya penderitaan Fridge tidak setara Bethany. Hilang sudah paras manis dan rambut pirang (dan telepon genggam), berganti jenggot lebat dan perut buncit Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Melihat Dwayne Johnson kagum pada tubuh kekarnya,  sebagaimana kita para insan biasa kerap rasakan  Kevin Hart heboh mengeluhkan keadaan, hingga ketangguhan bertarung serta kecanggungan Karen Gillan berlagak seksi terang menghibur. Namun Jack Black dengan tingkah "anggun" yang bukan parodi murahan terhadap laki-laki feminin memberi pesona terkuat, bukti bahwa sang pelawak belum habis.

Perjalanan berikutnya sederhana. Keempatnya mesti menyelamatkan dunia Jumanji, menjelajahi hutan, menghadapi serbuan kudanil buas, segerombol badak, hingga ular berbisa. Kemasan agresi dalam penyutradaraan Jake Kasdan (Bad Teacher, Sex Tape) memang menyenangkan walau detail tiap set-piece mudah terlupakan begitu kita meninggalkan bioskop. Menariknya, justru para abjad yang sanggup bertahan usang di ingatan berkat penokohan khas, juga porsi merata, baik momen agresi maupun komedi. Bermain video game perlu anutan taktis, dan mereka berempat mengatakan itu kala menghadapi setumpuk rintangan. 
Jatah nyawa, NPC (Non-Player Character) dengan kemampuan bicara sebatas kode samar kolam sandi, merupakan segelintir cara Jumanji: Welcome to the Jungle bersenang-senang memakai ciri video game. Tidak muluk pula usungan pesannya, sekedar "we can make new friends by playing multiplayer video game", yang mana kerap terjadi di keseharian kita. Kisah persahabatan (berbumbu romansa) ditangani dengan baik, membuat epilog hangat meski tidak mencapai level emosional setinggi reuni Alan dan Sarah di film pertama.

Jumanji: Welcome to the Jungle memilih menekan nostalgia secukupnya, hanya secuil rujukan berupa nama dua tokoh, termasuk versi lain Van Pelt (Bobby Cannavale) selaku antagonis. Tidak ibarat pendahulunya, Jumanji: Welcome to the Jungle takkan meraih status tontonan keluarga klasik, apalagi di tengah seringnya keterlibatan Dwayne Johnson pada suguhan agresi petualangan. Pun empat bulan lagi, kita segera melihatnya memerankan action hero, bertarung melawan hewan-hewan liar di tengah hutan belantara (sebelum berlanjut ke sentra kota) sambil mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang sama dalam Rampage. But this is fun and that should be enough.

The Greatest Showman (2017)

Silahkan buka Google, kemudian ketik "Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus" di kolom pencarian gambar. Anda akan melihat penari dan badut menggunakan kostum aneka warna, hewan-hewan melaksanakan atraksi, panggung dengan tata artistik meriah. Sirkus itu berhenti beroperasi semenjak 21 Mei 2017. Film debut sutradara Michael Gracey ini coba menghidupkan kemegahan serupa di layar lebar, melempar penonton ke 146 tahun kemudian dikala P. T. Barnum mendirikan Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang juga disebut "The Greatest Show on Earth". 

Daripada otentitas, pertunjukan Barnum (diperankan Hugh Jackman lewat karisma tanpa tanding) mengedepankan keajaiban semoga publik terperangah, terpukau, tertawa. "Penontonmu tampak lebih senang begitu keluar daripada dikala masuk", demikian ungkap Phillip Carlyle (Zac Efron), penulis naskah teater yang kelak jadi partner Barnum. Festive and fun entertainment. Itu tujuannya, tak peduli meski sedikit trik perlu diterapkan: menyumpal perut laki-laki tergemuk dengan bantal, memakaikan egrang di kaki laki-laki tertinggi. Bukan sepenuhnya penipuan, hanya melebih-lebihkan atas nama hiburan.
The Greatest Showman mengusung tujuan yang sama, sehingga musikal yaitu pilihan tepat, alasannya biopic formulaik takkan sanggup mewakili pesta pora di panggung Barnum. Untuk mencapai tujuannya, Pasek & Paul menulis lagu-lagu bertempo menghentak, riuh oleh instrumen serta gemuruh vokal para cast. Film ini menyadari potensi menjadi hiburan meriah, membuatnya berusaha keras (selalu) mengejar kemeriahan itu semenjak The Greatest Show selaku nomor pembuka berkumandang, ketimbang memilah menurut ketepatan emosi. Deretan lagu yang bagai versi overproduced dari Fall Out Boy yang sukar dibedakan satu sama lain pun dipoles terlalu mulus di studio, berujung melucuti emosi orisinil aktor. 

Tidak sanggup dipungkiri tata dekorasi yang melukiskan semarak sirkus di puncak popularitasnya mengundang decak kagum. Sinematografi kode Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers) punya imaji lebih dari cukup guna merealisasikan pertunjukan visioner P. T. Barnum. Jajaran pemain juga penuh totalitas menangani kompleksitas tiap koreografi. Zendaya sebagai Anne, seniman trapeze, mudah menciptakan jatuh hati, sementara Lettie Lutz si Wanita Berjenggot mengajak kita bersorak mendukung seruannya. Namun bayangkan menonton La La Land yang seluruhnya terdiri atas momen epilog. Fenomenal, namun sihirnya tak bekerja maksimal bila disajikan terus menerus. 
This Is Me dan Rewrite the Stars merupakan nomor musikal paling berhasil, lantaran mengandung lebih dari sekedar kemegahan: melawan segregasi dan ungkapan cinta. Adegan Barnum dan sang istri, Charity (Michelle Williams) turut bicara soal cinta, tetapi purnama di langit serta tarian Williams menembus lembar-lembar seprai putih tidak seintim maupun seromantis pertukaran rasa Anne dan Phillip. Anne melayang lincah di langit-langit, seolah ingin terbang meninggalkan Phillip, namun tatapannya sulit lepas dari sang laki-laki kulit putih terpandang. Sedangkan Phillip terus berjuang menggapai cintanya. 

Naskah karya Jenny Bicks dan Bill Condon mungkin tidak memberi ruang guna meresapi jatuh-bangun kehidupan Barnum yang penuh gejolak pula kontroversi, tapi cukup untuk menciptakan penonton sebatas memahami. Dia mengumpulkan orang-orang terpinggirkan, menyediakan mereka kesempatan disorot layaknya bintang, lantaran ia sendiri dipandang sebelah mata. Dia berjuang lantaran enggan melihat puteri-puteri kesayangannya sengsara menyerupai dirinya dahulu, meski hal ini menyeret Barnum pada sisi gelap kesuksesannya. Barnum menyuguhkan hiburan, mengajak penonton tertawa, lantaran lelah mendapati keseharian yang terkekang oleh kesuraman.

Kamis, 13 Desember 2018

Battle Of The Sexes/The Disaster Artist/The Meyerowitz Stories

Tiga film di bawah sama-sama menyoroti mereka yang terpinggirkan. Di Battle of the Sexes, para petenis perempuan dipandang sebelah mata, seolah tidak sama berharganya dengan petenis pria, The Disaster Artist memiliki Tommy Wiseau yang menjadi target empuk olok-olok tanggapan The Room yang melegenda, sementara The Meyerowitz Stories (New and Selected) bertutur soal seniman yang terlupakan, juga seorang laki-laki pengangguran yang merasa sang ayah lebih mencintai kakaknya.

Battle of the Sexes (2017)
Film biografi bertema olahraga biasanya mengedepankan usaha tokohnya memenangkan pertandingan dengan tujuan final merengkuh gelar juara. Para petenis perempuan di Battle of the Sexes pun berjuang untuk menang. Bukan demi piala berkilau atau pundi-pundi uang, melainkan kesetaraan gender. Petenis perempuan nomor satu pada 1973, Billie Jean King (Emma Stone), menolak begitu saja mendapatkan fakta perempuan hanya dibayar seperdelapan dari pria. Bersama beberapa  petenis perempuan lain, ia pun nekat membentuk WTA (Women’s Tennis Association) dengan dana seadanya dan menggelar tur sendiri. Stone, selain bersenjatakan senyum yang punya jangkauan verbal luas (dari sarkasme hingga kebahagiaan berbunga-bunga), juga meyakinkan dalam bergerak di atas lapangan. Caranya merayakan poin, berjalan sambil bersiasat, memasang kuda-kuda, semua menampakkan pengalaman petenis unggulan. Pun perihal akurasi, duo sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris (Little Miss Sunshine, Ruby Sparks) bisa mereka ulang detail (pernikahan di dingklik penonton, spanduk yang bertebaran) event legendaris Battle of the Sexes, kala Billie Jean bertanding melawan Larry Riggs (Steve Carell), mantan petenis top yang ingin menandakan bahwa laki-laki lebih superior dari wanita. Sebelum third act, kita urung dipamerkan seberapa hebat kemampuan Billie Jean, ketika Battle of the Sexes lebih tertarik menyoroti affair-nya dengan sang penata rambut, Marilyn Barnett (Andrea Riseborough). Namun mungkin itulah poinnya. Battle of the Sexes yaitu film dalam lingkup tenis yang tak mengutamakan tenis, melainkan usaha kaum marginal, meski usaha cinta Billie Jean tampil tak sesimpatik seharusnya. (3.5/5)

The Disaster Artist (2017)
Apa yang ada di kepala Tommy Wiseau dikala menciptakan The Room? Kenapa banyak momen acak tak berkesinambungan? Kenapa dialognya aneh? Kenapa akting pemainnya amat buruk? Kenapa menggunakan CGI alih-alih mengambil gambar di atap gedung sungguhan. The Disaster Artist memberi pencerahan mengenai setumpuk tanya di atas. Bukan jawaban pasti. Sebab dari mana Wiseau berasal, mengapa kekayaannya seolah tanpa ujung, dan berapa usia pastinya tetaplah misteri. Namun naskah buatan Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang mengadaptasi buku non-fiksi berjudul sama karya Greg Sestero dan Tom Bissell piawai mengaitkan deretan kecacatan Wiseau (James Franco) jadi kesatuan cerita seputar mimpi dan persahabatan. Kita diajak melihat bahwa seluruh keputusan janggal Wiseau sejatinya bentuk solidaritas juga ungkapan sayang terhadap sahabat. Setidanya itu yang Greg Sestero (Dave Franco) percaya. The Disaster Artist bukan saja menjawab pertanyaan-pertanyaan wacana The Room, pula berpotensi mengubah persepsi. Dari salah satu tontonan terburuk sepanjang masa yang layak ditertawakan jadi karya dengan ketulusan dan passion selaku pondasi. Pancaran kegetiran di wajah Franco kala penonton tertawa terbahak-bahak di tengah pemutaran perdana akan menusuk hati, apalagi jikalau anda selama ini kerap menimbulkan Wiseau materi olok-olok. Franco sendiri tak hanya menggandakan gerak dan tutur Wiseau yang ganjil, tetapi total meresapi, kemudian sepenuhnya bertransformasi. Sebagai sutradara, keberhasilan Franco merekonstruksi ulang momen-momen ikonik The Room sampai ke detail terkecil patut diacungi jempol. Baik selaku studi karakter, biografi, maupun komedi kental kebodohan tingkah tokohnya, The Disaster Artist tampil unik nan efektif. (4.5/5)

The Meyerowitz Stories (2017)
Sebagai Danny Meyerowitz, Adam Sandler berkumis, berjalan pincang, tidak mengenakan kaus oblong andalannya. Singkatnya, ia meninggalkan sosok laki-laki kekanakan yang menempel berpengaruh dan mencirikan filmnya.  Danny yaitu putera Harold Meyerowitz (Dustin Hoffman), mantan pematung tersohor yang enggan mendapatkan kenyataan bahwa dirinya makin terlupakan. Total  Harold mempunyai tiga anak dari tiga komitmen nikah berbeda (kini ia tengah menjalani komitmen nikah keempat). Selain Danny ada Jean (Elizabeth Marvel), satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling tertutup, juga Matthew (Ben Stiller), putera kesayangan Harold yang sukses sebagai penasihat finansial. Merupakan kenikmatan melihat Sandler dan Stiller beradu memamerkan performa sensitif yang turut menyelipkan sisi komedik. Tampil ketiga kalinya di film Noah Baumbach, Stiller tampak telah terbiasa, gampang melakoni kecanggungan di sela-sela kegetiran duduk kasus keluarga. Namun sumber emosi terbesar tetap Sandler.  Melalui akting jujur nan hangat, dibuatnya paparan konflik ayah-anak yang ada terasa bernilai. Lewat senyum serta tatapan yang sulit ditebak, Sandler memberi kompleksitas yang tak kalah rumit dibanding problematika utama yang diangkat, yakni soal keluarga modern. Keluarga Meyerowitz tersusun atas satu ayah, banyak anak, banyak ibu, menghasilkan kepribadian, kisah, pula permasalahan beragam. The Meyerowitz Stories (New and Selected) menuturkan proses pemahaman tiga bersaudara Meyerowitz , bahwa rupanya mereka tidak serenggang dan seberbeda itu. Ingatan rancu Harold mengenai siapa yang sewaktu kecil dulu kerap menemaninya berkarya jadi bukti. Like most of Baumbach’s movies, The Meyerowitz Stories finds its sweetness in a quirkiness. (4/5)

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri / The Shape Of Water / Loving Vincent

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibentuk dengan lukisan ini terperinci pantas menerima perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, hingga kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, lezat diikuti, pula gampang dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam menyidik perkara pembunuhan dan pelecehan seksual puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill yakni polisi contoh yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan menggunakan kekerasan. Kesenduan Harrelson bisa mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand yakni pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), hemat gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan bermacam-macam gempuran yang tidak mungkin diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam info sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk pinjaman del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) yakni tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan perempuan kulit gelap berjulukan Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium belakang layar tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan perjuangan mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan semenjak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari berdiri tidur, masturbasi, menanti bus, hingga bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat kolam dunia khayal yang membuai, walau keindahan sebenarnya gres tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya hidangan klasik Hollywood yang berkhasiat mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna menyayangi sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan Istimewa yang del Toro siapkan tengah mangkir dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, tabrakan cat air ala lukisan Vincent van Gogh mengakibatkan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya menciptakan tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta janjkematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan perjuangan Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian perilaku Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski bahaya pemecatan menghantui. Misteri seputar janjkematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

Senin, 10 Desember 2018

Hoax (2018)


Hoax sejatinya telah diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2012, kemudian melanglang buana ke bermacam-macam pekan raya internasional sepanjang tahun berikutnya. Saat itu judulnya masih Rumah dan Musim Hujan. Enam tahun berselang, akibatnya film ini rilis di bioskop komersil tanah air sesudah berganti judul serta beberapa kru termasuk editor dan penata musik. Perubahan yang tampaknya bertujuan biar filmnya lebih gampang diakses penonton luas. Menurut yang telah menonton versi Rumah dan Musim Hujan (saya belum), Ifa Isfansyah selaku sutradara sekaligus penulis membagi alur menjadi tiga segmen terpisah.

Sementara dalam Hoax gaya narasi interwoven di mana tiap kisah hadir saling bergantian dipakai. Melihat porsi masing-masing karakter, ini keputusan tepat, lantaran kualitas antar segmen kurang berimbang. Ketika pengalaman Adhek (Tara Basro) begitu mencekam, pergolakan Ragil (Vino G Bastian) tampil lemah, miskin eksplorasi, pula tak solutif. Menyatukannya menciptakan ketiga dongeng saling melengkapi, menyokong satu sama lain, meski menjadikan permasalahan gres terkait lompatan tone. Tujuan awal Ifa memang merangkai tiga dongeng dengan warna dan genre berbeda.
Hoax dibuka oleh keceriaan buka puasa sekeluarga berkat permainan yang Bapak (Landung Simatupang) bawa dari Korea. Ifa sendiri pernah bersekolah film di Korea. Seusai buka bersama gres kita dihadapkan pada diam-diam para tokoh. Ragil yang tinggal bersama Bapak menyimpan fakta di balik kealiman yang mengungguli sang bapak yang menganut kejawen. Bapak menonton televisi, Ragil sudah siap berangkat solat. Bapak bermain wayang, Ragil membaca Al Qur’an. Kakaknya, Raga (Tora Sudiro), gemar berganti pacar dan kali ini giliran Sukma (Aulia Sarah) yang dibawa. Persoalan cinta pelik pun telah menanti. Sedangkan Adhek yang tinggal bersama Ibu (Jajang C Noer) mengalami kejadian mistis sesampainya di rumah.

“Siapa yang Bohong?”. Demikian tagline film ini. Pertanyaan yang kita sendiri kerap lontarkan di tengah maraknya hoax bertebaran. Ambiguitas informasi mengenai ilmu pengetahuan, informasi sosial, seksualitas, hingga agama ditampilkan Ifa, menciptakan Hoax terasa relevan bagi kondisi sekarang. Sayang, aneka macam duduk kasus di atas belum cukup mencengkeram, terpampang kolam sampul semata tanpa mengindahkan dilema batin maupun tabrakan sosial, khususnya terkait Ragil yang permasalahannya terkesan disederhanakan. Sebagai bingkai kondisi masyarakat Indonesia, Hoax cuma bermain di permukaan, tetapi sebagai penjaga tensi, penelusuran akan diam-diam para tokohnya bisa menjaga dinamika.  
Mengambil alih penyuntingan gambar dari Eddie Cahyono dan Greg Arya, Sentot Sahid berpadu dengan penyutradaraan Ifa memainkan intensitas melalui presisi gerak adegan. Banyak momen diakhiri oleh cliffhanger dan kejutan pemancing rasa penasaran. Eksperimen Ifa untuk membedakan pondasi genre tiap segmen pun menghasilkan alur yang acap kali mengecoh ekspektasi. Berbeda dengan Pesantren Impian, di sini Ifa piawai meramu atmosfer menegangkan melalui permainan tempo serta bahasa visual. Sebuah adegan yang memperlihatkan Ibu sedang solat menjadi puncak intensitas Hoax. Tentu ini tak terlepas dari akting Jajang C Noer. Gestur dan cara bicaranya mengundang kengerian di tengah rumah temaram tatkala identitas jadi hal yang dipertanyakan dan kebenaran nyaris tidak mungkin dipastikan. 

Pemain lain berakting solid sesuai porsi. Khusus untuk Tora, ia mengingatkan kita akan kapasitasnya yang tak terbatas sebagai komedian, pula bisa menjalani lakon serius. Jadi siapa yang bohong? Untungnya Hoax tidak mencoba menjawab gamblang pertanyaan itu, lantaran misteri terbaik yaitu yang tidak seutuhnya terungkap. Demikian juga soal situasi sampaumur ini, bukankah makin sulit menebak siapa penyebar kebohongan, siapa pembawa kebenaran? Ifa menentukan setia terhadap realita tersebut demi menjaga relevansi karyanya di samping sebagai drama-thriller yang hadir menegangkan secara konsisten.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...