Tampilkan postingan dengan label Arie Kriting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arie Kriting. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2018

5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang hebat mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita absurd luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut yakni pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi hubungan Yanto-Dewi lah pencetus alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sahabat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan dampak bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku komplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat bintang film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum dikala secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai adu penuh gaya, menyerupai tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

Sabtu, 15 Desember 2018

Susah Sinyal (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah dongeng di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih memakai perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, kekerabatan berjarak antara orang bau tanah dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media umum dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan ihwal film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kau cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, masuk akal Kiara amat terpukul ketika nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan harapan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke daerah di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, hingga Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, terang takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh stress berat yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di materi pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda ketika celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati aneka macam peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel berjulukan Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh goresan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, kemudian seolah resah mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa besar lengan berkuasa berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi bernafsu musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang mampu menyulap dialog kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang mengakibatkan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu menciptakan iman saya padanya tidak luntur. 

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...