Tampilkan postingan dengan label Adinia Wirasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adinia Wirasti. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2018

Satu Hari Nanti (2017)

Mengusung rating 21+, Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan alasannya yaitu bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti, melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8, Mencari Hilal), sudut pandang film yang mengetengahkan dongeng saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa, di mana romantika bukan cuma acara "manis-manis manja", istilah "best friend forever" tidak eksis, sedangkan setting luar negeri bukan digunakan sebagai lahan jalan-jalan ria. 

Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar, sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide, Din (Ringgo Agus Rahman), bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung, menyediakan daerah bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh, dan persahabatan bermetamorfosis hasrat menggebu. 
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yakni abjad solid. Dalam Satu Hari Nanti, gampang mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan, inginkan, atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya, keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum kolam turis di negeri orang. Akhirnya, biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat, dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti menciptakan musik bernuansa Eropa, Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata. 

Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya, setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo ketika menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang digunakan karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora, Salman menentukan memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa, khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik, tapi Adinia bisa mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang, penyutradaraan Salman Aristo tak mempunyai sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah remaja nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah obrolan tanpa pokok pembicaraan yang bisa menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata, Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal jikalau diamati, tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta, mimpi, sampai gejolak batin manusiawi, yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh pandangan gres yang gundah cara menumpahkannya. Penonton sanggup menangkap setumpuk gagasan itu, tapi sulit merasa terikat, yang artinya, Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif, bukan afektif. 

Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil kesannya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan", Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah, menciptakan destinasi yang tolong-menolong Istimewa berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup problem kedua (atau keempat) kekerabatan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi ketika Chorina tidak lagi membutuhkan pertolongan untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Sabtu, 15 Desember 2018

Susah Sinyal (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah dongeng di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih memakai perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, kekerabatan berjarak antara orang bau tanah dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media umum dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan ihwal film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kau cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, masuk akal Kiara amat terpukul ketika nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan harapan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke daerah di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, hingga Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, terang takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh stress berat yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di materi pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda ketika celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati aneka macam peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel berjulukan Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh goresan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, kemudian seolah resah mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa besar lengan berkuasa berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi bernafsu musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang mampu menyulap dialog kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang mengakibatkan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu menciptakan iman saya padanya tidak luntur. 

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...