Tampilkan postingan dengan label Tisa TS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tisa TS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Surat Cinta Untuk Starla The Movie (2017)

Memerankan empat tokoh serupa dalam empat romansa sepanjang 2017, Jefri Nichol mesti berpindah haluan sejenak tahun depan. Sebelumnya, bolehlah kita sekali lagi menikmati Nichol sebagai bad boy yang (diam-diam) berhati emas. Dia memang terlahir untuk abjad demikian. Dan pembiasaan layar lebar lagu buatan Virgoun yang sempat pula diangkat menjadi web series berjudul sama ini terperinci memfasilitasi talenta sang aktor. 

Jefri menjadi Herma Chandra, remaja yang sulit diatur, seniman graffiti jalanan yang kerap diburu polisi, enggan berkuliah, ke mana-mana mengendarai kendaraan beroda empat renta sambil menenteng mesin tik peninggalan mendiang kakeknya. Singkatnya, Herma yakni hipster. Gemar menghabiskan waktu di cafe hipster pula. Tapi beliau juga pecinta alam, mengutuk mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena tokoh dalam film remaja arus utama kita wajib mempunyai kompas budpekerti biar penonton ABG bisa mengambil contoh, bukan?
Pasangannya tak lain Starla (Caitlin Halderman), gadis kaya pemilik coffee shop yang pertunangannya gres saja kandas. Jika Jefri masih sering lemah soal pengucapan dialog, Caitlin lebih dinamis. Meski berparas manis dan berasal dari kalangan atas, ia bukan puteri glamor macam aktris Screenplay lain, sebutlah Michelle Ziudith. Caitlin sebagai Starla merupakan gadis idola manis yang sanggup kita jumpai di kehidupan nyata. Itulah mengapa sosoknya gampang disukai. Diawali kesalahpahaman, Starla justru jatuh cinta pada Herma, pun sebaliknya.

Dipandang lewat segi filmis, Surat Cinta Untuk Starla jelas penuh cacat. Dialog berupa kalimat puitis yang dipaksa bersatu ketimbang pembicaraan natural manusia, flashback yang tak terjahit rapi dengan setting masa kini, hingga twist tak substansial selaku pemenuhan obligasi terhadap ciri Screenplay. Tapi beda ceritanya kalau memandang film ini drama romantika "kental sakarin" dengan tujuan tunggal memancing jeritan penonton muda, tepatnya golongan Sekolah Menengan Atas ke bawah. Di sela-sela romansa, Ramzy dan Ricky Cuaca memberi bumbu komedi tak lucu, sedangkan Teuku Ryzki alias Kiki menegaskan bahwa personil CJR yang bisa berakting hanya Iqbaal.
Walau dangkal, saya urung menentang hiburan menyerupai itu. Surat Cinta Untuk Starla sanggup menciptakan para gadis berteriak tiap Jefri Nichol bicara atau membelai wajah Caitlin Halderman (sebelum alhasil bicara juga). Suatu hari mereka bakal beranjak dewasa, tak lagi menggemari gaya percintaan demikian, kemudian geleng-geleng kepala melihat generasi lebih muda yang tergila-gila. Bukan masalah. Ini yang disebut proses perkembangan. 

Sama halnya proses berkarya Screenplay yang perlahan berkembang. Biarpun duet penulis naskah, Tisa TS dan Sukhdev Singh jalan di tempat, kehadiran Rudi Aryanto (dulu menciptakan judul "legendaris", Psikopat) menggantikan Asep Kusdinar sebagai sutradara sedikit menghasilkan rasa baru. Mementingkan fokus pada kedua tokoh alih-alih pemandangan (yang tak lagi menggunakan setting luar negeri mewah) kala terjadi interaksi, korelasi Herma-Starla terjalin melalui obrolan yang memaksimalkan pesona dua pemain utama. It's more about relationship than luxury. Andai naskahnya tak coba tampil rumit secara berlebihan dalam merangkai twist yang berakhir kolam benang kusut.

Minggu, 09 Desember 2018

London Love Story 3 (2018)


London Love Story 3 terperinci ditujukan bagi para penggemar saja. Penonton di luar lingkup tersebut, menyerupai saya, meski setia mengikuti dari film pertama, akan kesulitan mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Bahkan sedikit flashback tak begitu membantu. Kenapa dulu Caramel (Michelle Ziudith) meninggalkan Dave (Dimas Anggara)? Apa Dave sebelumnya pernah mengalami kecelakaan? Semua kurang jelas di ingatan. Satu yang film ini terus coba ingatkan, bahwa Caramel pernah berdoa supaya Tuhan mengambil nyawanya satu hari sebelum Dave. Doa ini mengerikan bagi Dave, alasannya bila kelak Caramel meninggal, ia tahu keesokan harinya akan menyusul.

Doa tersebut hampir jadi kenyataan, dikala keduanya mengalami kecelakaan beberapa ahad sebelum melangsungkan janji nikah di Bali. Kecelakaan yang menciptakan Caramel tidak bisa menggerakkan kakinya, dan berdasarkan Dokter Rio (Derby Romero), ada kemungkinan ia lumpuh total. Identitas Dokter Rio sendiri ialah twist. Kejutan yang eksekusinya penuh lubang budi sekaligus tanpa signifikansi kecuali sebagai pemenuhan obligasi. Karena ini termasuk salah satu ciri khas Screenplay.
Saya membayangkan duo penulis naskahnya, Tisa TS dan Sukhdev Singh menyimpan template berisi checklist mengenai apa saja yang wajib muncul dalam film Screenplay. Twist? Cek. Kecelakaan atau penyakit? Cek. Jalan-jalan dengan kendaraan beroda empat mewah? Cek. Dialog puitis? Cek. Khusus soal dialog, kuantitasnya sedikit dikurangi, meski obrolan berkepanjangan tetap setia mengisi. Begitu panjang dan berulang, satu pokok permasalahan bisa dibahas dua kali, di mana sekali pembicaraan bisa berlangsung 5 menit.

Memasuki film ketiga (plus penampilan di produksi Screenplay lain), Michelle Ziudith makin cakap menjual momen bertabur kalimat “puitis”. Dia tersipu, menangis, tertawa dengan alamiah, seolah kata-kata gombal yang Dave lontarkan merupakan hal yang normal keluar dari verbal insan pada umumnya. Untuk Dimas Anggara, nyatanya ia cukup menarik disimak ketika tak dituntut bermanis ria lewat puisi. Saat Dave berpura-pura hendak menghajar Rio misalnya. Momen ringan namun hidup menyerupai itu yang sejatinya Screenplay butuhkan biar film-filmnya bernyawa.
Poin plus layak diberikan terhadap kemauan Tisa TS dan Sukhdev Singh bergerak ke ranah lebih kelam. Konflik London Love Story 3 bukan lagi ihwal cinta segitiga. Gejolak psikis Caramel kala bergulat dengan ketakutan serta shock tentu lebih rumit daripada kebingungan mengenai menentukan kekasih. Kondisi itu membuatnya menolak percaya pada keajaiban. Sudah niscaya itu sementara. Kita tahu bahwa sehabis proses penuh simplifikasi, Caramel bakal mempercayai keajaiban lagi sebagaimana para penulisnya mempercayakan penyelesaian persoalan pada keajaiban. Paling tidak ada perjuangan merangkai adegan romantis terkait keajaiban tersebut.

Seperti trailer-nya telah paparkan, Caramel akan meminta Dave mengakhiri relasi mereka. Alasannya dua: Pertama, Caramel tidak tahan melihat sang cinta sejati harus mengurusnya bagai perawat. Kedua, Caramel merasa Dave memberinya impian palsu dengan meyakinkan bila ia akan segera sembuh. Andai pemfokusan diberikan kepada alasan kedua, tujuan menyusun konflik yang lebih arif balig cukup akal bakal terpenuhi. Tapi London Love Story 3 memang khusus untuk para penggemar yang secara umum dikuasai belum memasuki usia dewasa.

The History of How to Get Bit Coin Refuted

The History of How to Get Bit Coin Refuted - For Limit, you are just setting a purchasing order or bidding the sum of Bitcoin you wish to b...